Wednesday, 26 August 2015

Tourism 3.0 di Penitipan Motor Gunung Prau

Seperti ini ceritanya, hari itu, semua anggota yang berangkat untuk mendaki Prau berjumlah empat orang, dan semuanya belum pernah mendaki gunung ini sama sekali. Jadi, terkait jalur pendakian, kemanan penitipan motor, hingga jalan menuju basecamp pendakian Patak Banteng pun aslinya tidak ada satupun dari kami yang tahu, singkatnya, belum ada yang berpengalaman mendaki gunung ini.

Waktu pertama kali sampai ke lokasi basecamp, kami langsung mencari tempat penitipan motor, seorang bapak - bapak berusia diatas 40 tahunan memanggil, "sini aja mas". Melajulah kami ke tempat yang dimaksud oleh si bapak barusan.

Baca juga : Tingkat Kesulitan Trek Gunung Prau Wonosobo

Sampai di tempat parkir motor, semuanya tampak tak meyakinkan, karena parkirannya bukan di dalam pagar, tapi di tanah kosong milik warga setempat, tanpa atap, tanpa pagar. Bentuknya yang tak meyakinkan, sempat membuat saya ingin mengajak teman - teman mencari tempat penitipan lain. Tapi, pada akhirnya kami tetap parkir di sana.

Seorang teman bertanya kepada istri si bapak pemilik parkiran motor, "berapa bayarnya bu?", kata teman saya. Ibunya menjawab dengan yakin, "tujuh ribu mas." Sebuah harga yang di kepala kami adalah harga yang sedikit lebih mahal, karena menurut referensi yang kami dapat dari teman - teman yang pernah ke sini, katanya nitip motor itu biayanya lima ribu.

Teman yang bertanya tersebut kembali bertanya kepada ibu tersebut, seolah meyakinkan suatu hal, siapa tahu si ibu yang salah. "Hah? Tujuh ribu bu? Bukannya lima ribu?" Dua lembar uang lima ribuan yang sudah keluar dari dompet pun menunggu uang empat ribu lagi yang harus kami berikan ke ibu tersebut.

Si ibu mengajak kami untuk ke rumahnya dulu, untuk menaruh helm serta beristirahat sejenak. Sampai di rumah sederhana tersebut, kami langsung dipersilahkan duduk. Tak ada kursi, hanya ada tikar yang diatasnya sudah tersedia beberapa makanan.

Di dinding rumah tersebut ada dua buah foto seorang wanita yang sedang berada di puncak sebuah gunung. Ukuran foto tersebut kira - kira dua buah ukuran kertas A3 dijadikan satu.

Baca juga : Gunung Prau ketika Golden Sunrise terindah se ASEAN di puncaknya

Ini yang istimewa, si ibu mengambil sesuatu di dapur. Kami menunggu agak lama, sekitar dua sampai tiga menit. Saya penasaran dengan apa yang dilakukan ibu tersebut.

Akhirnya, tak lama kemudian si ibu keluar dari dapur, membawa dua buah termos berisi air panas. Kemudian si ibu balik lagi ke dapur, lalu kembali lagi ke ruang tamu, tempat di mana kami berada, sambil membawa setoples gula dan kopi, lalu kembali lagi ke dapur untuk mengambil teh celup.

"Monggo mas, minum dulu," begitulah tawaran si ibu setelah menaruh kopi, gula, teh dan termos. Di waktu - waktu tersebut, saya tiba - tiba mikir, "ini bayar ga ya?" Cukup heran dengan apa yang dilakukan oleh ibu tersebut, kok cuma dengan tujuh ribu kami diberikan minum seperti ini, istimewa sekali kalau gratis.

Selain mendapatkan minum yang bisa dibuat sendiri sesuai selera, kita juga bisa dengan bebas ke kamar mandi untuk berbagai keperluan, mulai dari sekadar buang air kecil, buang air besar hingga mandi.

Pelayanan seperti ini, minuman, makanan, serta kamar mandi yang kami dapatkan dengan tujuh ribu rupiah untuk satu motor benar - benar bagus bagi kami. Kami tak perlu keluar uang tambahan untuk sekadar menyesap teh panas atau kopi panas untuk mengganggu dingin yang mengelus tubuh.

Hal tersebut kami rasakan berkelanjutan, yaitu ketika kami telah turun dari gunung, sudah sampai bawah, lalu masuk ke rumah si ibu dan bapak ini. Rupanya, kopi, teh, gula dan tremos berisi air panas beserta gelas sudah tersedia di ruang tamu, ruang tempat helm - helm pendaki ditaruh. Ternyata termosnya juga penuh, bukan sisa hari sebelumnya. Wow.

Baca juga : Berapa total biaya retribusi di area Gunung Prau?

Karena terkesan dengan apa yang kami dapatkan, terkesan dengan pelayanan yang diberikan oleh si ibu, walaupun hanya sekadar menambahkan minuman gratis. Tapi karena saya belum pernah melihat dan merasakan pelayanan yang seperti ini sebelumnya, bagi saya ini adalah tourism 3.0. Jualan barang atau jasa sekaligus memberikan pengalaman mengesankan kepada pelanggan.

Koreksi jika ada kesalahan penulisan ya gan. Ditunggu diskusinya di kolom komentar di bawah.


Artikel Terkait


EmoticonEmoticon