Friday, 4 September 2015

Coffee Toffee : Belajar Bisnis Dari Kesalahan Masa Lalu Mereka

Coffee Toffee : Belajar Bisnis Dari Kesalahan Masa Lalu Mereka

Coffee Toffee - Memulai usaha tidak bisa dilakukan tanpa strategi. Harus. Iya, menjalankan usaha harus dimulai dari perancangan strategi yang dimulai sebelum usaha berjalan. Banyak entrepreneur yang memulai usaha dengan bermodalkan kepercayaan diri yang tinggi hingga tak segan mengambil resiko dan berujung pada kebangkrutan. 

Resiko : Jangan Salah Kaprah tentang Mengambil Resiko Dalam Bisnis (link)


Hal inilah yang sempat terjadi pada salah satu chain coffee shop Indonesia, Coffee Toffee. Dengan penuh keberanian dan gagasan bahwa Indonesia adalah salah satu produsen kopi terbesar di dunia, Odi Anindito mulai membangun bisnis ini. Misi awal Odi membuat Coffee Toffee adalah menyajikan kopi Indonesia yang berkualitas dengan harga yang terjangkau lintas kalangan.

Di tengah serbuan kopi franchise Internasional, Kampanye awal yang dilakukan oleh coffee shop ini adalah, "Yes, I Drink Indonesian Coffee". Kampanye ini tidak berbicara mengenai biji kopi atau varietas kopi, tapi mengenai kebanggaan pride (italic) dengan mengonsumsi kopi dalam negeri.

Kopi Toffee adalah satu diantara banyaknya usaha yang selamat dengan memulai usaha dari skala kecil. Hal ini tidak lain dan tidak bukan terjadi karena keterbatasan modal yang mereka miliki saat mendirikan Coffee Toffee pertama kali. Coffee Toffee saat pertama kali berdiri memilih booth sebagai lokasi penjualan produk. Hanya sebuah booth. Modelnya, take away.

Semula, keterbatasan modal ini memang berbuah manis. Popularitas Coffee Toffee membludak dan menjadi buah bibir. Desain booth dan kemasannya yang menarik serta harga yang kompetitif menjadi alasan mengapa Coffee Toffee versi booth digandrungi, sehingga berhasil mencatatkan penjualan yang fantastis pada tahun pertama.


Sayang, hal ini tidak berlangsung lama. Seiring berjalannya waktu, perilaku konsumen berubah. Konsep take away-nya memang menimbulkan buzz di awal. Tapi, mereka melupakan bahwa konsep take away tidak relevan di Indonesia. Karena itulah, meski memiliki produk yang baik, dengan cara penjualan yang salah produk Coffee Toffee tidak laku di pasaran.

Cerita serupa, baca juga : Warung Bubur Ayam buatan Mahasiswa ini Juga Tidak Laku di Pasaran, Apa sebabnya?

Budaya masyarakat Indonesia yang senang ngumpul, ngobrol, atau dalam bahasa gaulnya nongkrong ini belum dilirik oleh Odi saat memulai usahanya tersebut. Dan hebatnya, tak sedikit, bahkan sudah membudaya bahwa masyarakat Indonesia meminum kopi saat nongkrong.


Dari situ, mereka gagal memanfaatkan budaya ngopi masyarakat Indonesia yang menjadikan kopi sebagai social drink. Dengan posisinya di Indonesia sebagai minuman sosial, kopi mau tidak mau harus dilengkapi dengan fasilitas untuk berdialog dan berkumpul.

Hal ini juga diungkapkan oleh Jacky Mussry, senior vice president Markplus, Inc., mengatakan bahwa masyarakat Indonesia, by default, memang memiliki budaya kongkow yang tinggi. Sejak dulu, Indonesia yang dikenal sebagai negara dengan masyarakatnya yang ramah, hal ini karena memang gairah untuk bersosial masyarakat Indonesia itu tinggi. Sehingga, apakah itu kopo, teh, atau apapun, harus ada unsur sosial di dalamnya.


Selain itu, faktor lain seperti gagalnya mengatur cash flow dan pecahnya kongsi dengan mitra bisnis membuat Coffee Toffee semakin terpuruk. Dari lokasi, manajemen, customer, hingga konsep saat itu memang bermasalah.

Namun, Odi menekankan bahwa kegagalannya itu tidak pernah disebabkan oleh produk. Dengan prinsip menyajikan kopi terbaik dengan harga terjangkau, kopi selalu menjadi titik sentral yang dipegang agar Coffee Toffee dapat bangkit kembali.

Menyimpulkan pengalaman gagal yang pernah dialaminya, terdapat dua pesan yang diberikan Odi untuk para entrepreneur yang baru mulai menjalankan usaha. Pertama, berikan 100% fokus Anda atau tidak sama sekali. 

Ada beberapa tipe pengusaha yang bisa menjalankan banyak perusahaan. Tapi untuk yang memulai dari nol, kita perlu memberikan fokus 100%. Ketika bisnis sudah stabil, sudah bisa membayar CEO, barulah kita bisa memulai bisnis yang lain.

Kedua, juallah hanya produk yang Anda sendiri mau membeli atau menggunakannya. Posisikan diri Anda sebagai customer.

Namun, itulah cerita lalu. Kini jaringan Coffee Toffee sudah tersebar dengan lebih dari 150 gerai di seluruh Indonesia. Bangkit kembali menggunakan konsep gerai dengan tempat duduk dan mengobrol berhasil mengakomodasi kebutuhan ngumpul orang Indonesia. Coffee Toffee pun sukses menjadi pemain lokal yang punya nama di negeri sendiri. Jangan diperluas dengan cara franchise namun dengan ekstra kontrol.


"Franchise itu bagus. Tapi bisa bersntakan ketika kita tidak mengontrol. Jadi setiap gerai tetap harus dimaintain," ujar Odi. "Yang pasti, kita harus melihat dari kaca mata customer. Jika kita sendiri tidak mau membeli produk kita, apalagi orang lain?" kata Odi.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon