Sunday, 20 September 2015

Kamu mahasiswa? Mau Jadi Importir? Baca ini dulu!!

Ekspor adalah kegiatan mengeluarkan barang atau jasa dari dalam ke luar negeri. Sedangkan impor adalah kegiatan memasukkan barang atau jasa dari luar ke dalam negeri.

Keduanya memiliki fungsi dan peranan masing – masing bagi perekonomian Indonesia. Belakangan ini saya mendengar cerita – cerita tentang kegiatan ekspor-impor yang dilakukan oleh mahasiswa.

Di artikel ini saya ingin mengajak teman – teman pembaca blog (terutama mahasiswa) untuk merenungkan sejenak tentang kegiatan mana yang sebaiknya kita lakukan jika kita ingin menjadi wirausahawan di kedua bidang ini, ekspor atau impor?

Saya punya contoh mahasiswa – mahasiswa Indonesia yang menjadi pemain ekspor-impor. Dan mana yang lebih baik untuk perekonomian tanah air?

Contoh (cerita nyata)

Di sektor impor saya akan contohkan dengan mas Arief Setiawan “Kiming”. Arief Setiawan beberapa tahun lalu adalah seorang mahasiswa Indonesia–yang menempuh S2 & S3 di Jepang, alumni teknik mesin UGM dan sekarang sudah selesai–yang juga sudah bertahun – tahun menjadi pemain di distribusi part moge–motor gede–dari luar (Jepang) ke dalam negeri (Indonesia). Cerita ini saya muat berdasarkan cerita yang beliau share melalui status – status facebook beliau.


Awal mula menggeluti usaha impor part moge ini kabarnya mas Arief juga menghadapi tantangan, seperti diremehkan, dijelek – jelekkan oleh pemain lama di jual beli part moge. Namun karena memiliki UPS (Unique Selling Proposition) yang jelas akhirnya sekarang usaha beliau menjadi pemain utama dalam bisnis part moge tersebut. Di Jepang–entah bagaimana caranya–mas Arief ini bisa mendapatkan limbah (sampah) motor gede dari pabrik moge di Jepang. Inilah (mungkin) yang menjadi keunikan sekaligus nilai tambah bagi usaha part moge doi. Selain itu, beliau juga melakukan usahanya ini di jalan yang benar (hahaha), maksudnya tidak melakukan penyelundupan saat mengimpor part moge pesanan klien-nya ke Indonesia, tetapi melalui standar prosedur yang sudah ditetapkan pemerintah.

Selanjutnya di bidang ekspor ada mbak Noor Lintang Irawadi yang sukses menjadi salah satu pemain utama dalam bidang ekspor biji mahoni asal Indonesia. Kabarnya doi sudah bisa membeli sebuah mobil dan membeli sebuah rumah di tengah Jogja sebelum usia 20 tahun karena usaha ekspor biji mahoni ini, waah hebat ya.

Mbak Lintang ini adalah mahasiswi di UGM. Gadis remaja yang kisahnya dalam menjual biji mahoni pernah dimuat di kaskus ini sekarang sedang memperluas wilayah tujuan ekspor rempah ke wilayah lain selain Cina yang sudah dikuasai belakangan ini.

Baik mana? Impor vs Ekspor

Keduanya tentu memiliki peran dan menghasilkan pendapatan bagi Indonesia. Dua cerita pendek di atas adalah dua contoh yang “pas”, yang satu menjadi importir dan yang diimpor adalah barang yang memang belum di produksi secara massal di dalam negeri, artinya kegiatan impor yang dilakukan tidak menyaingi atau merebut pasar yang sudah ada–karena memang belum ada pemainnya–dalam industri part moge di Indonesia.

Yang satunya lagi menjadi eksportir dan barang yang diekspor adalah barang yang memang tersedia banyak di dalam negeri yang bahkan memang membutuhkan pasar baru agar bisa dijadikan uang. Ekspor ini memberikan kemudahan bagi petani – petani mahoni untuk menjual hasil panennya.

Sekali lagi, mana yang lebih baik?

Tulisan berikutnya murni merupakan opini saya, jadi silahkan teman – teman baca, dan boleh setuju boleh juga tidak setuju.

Jika kegiatan ekspor yang dilakukan adalah seperti contoh yang dikisahkan maka kegiatan ekspor adalah baik karena yang diekspor adalah kekayaan alam yang tidak akan habis karena merupakan produk dari makhluk hidup (dalam hal ini phohon mahoni, karena yang diproduksi adalah biji mahoni). Selain itu, walaupun yang diekspor adalah bahan mentah atau bahan baku yang nantinya akan diolah menjadi obat – obatan di negara tujuan, perusahaan obat dalam negeri yang memerlukan biji mahoni untuk produk obatnya pun tidak akan kehabisan karena biji mahoni bisa ditemukan di banyak daerah di Indonesia dan tidak akan habis.

Namun, jika yang diekspor adalah bahan mentah–yang bisa habis karena bukan merupakan hasil pertanian, seperti emas, minyak bumi, gas bumi–yang tanpa diolah terlebih dahulu di dalam negeri untuk menaikkan nilainya maka maka kegiatan ekspor seperti ini adalah buruk. Alasannya, selain harganya yang (tanpa diolah) terlalu murah untuk dijual dibandingkan dengan kita menjual produk setelah diolah (produk jadi ataupun setengah jadi), terkadang kita juga yang mengonsumsi produk jadi yang telah diolah oleh negara lain dengan harga yang lebih tinggi. Seperti penjualan gas mentah ke Cina yang terlalu murah dan sayangnya setelah jadi(diolah oleh perusahaan gas di Cina) kita juga yang membeli hasil olahan tersebut dengan harga yang lebih tinggi.

Jika kegiatan impor yang dilakukan seperti contoh di atas (limbah moge mas Arief Setiawan) maka kegiatan impor adalah baik. Alasannya karena barang yang dimasukkan dan dijual di dalam negeri tidak menjadi pesaing industri lokal karena memang industrinya yang belum ada.

Namun, jika impor yang dilakukan menyaingi industri atau usaha lokal seperti impor pakaian, impor hp (apalagi melalui jalur ilegal) maka kegiatan impor adalah buruk.

Kita mengimpor hp, misalnya iPhone, tentu iPhone yang asli, sebagai contoh saja anggap asal toko penjualnya ada di Thailand, jika kita membeli dari toko ini harganya akan sangat murah dibandingkan jika kita membeli secara grosir di dalam negeri. Dengan melakukan ekspor ini–ditambah pengirimannya melalui jalur ilegal–maka kita telah menyaingi usaha – usaha lokal yang sudah ada dan melakukan kegiatan impor melalui regulasi hukum yang sesuai aturan dan itu adalah hal buruk yang dilakukan oleh mahasiswa.

Lantas mana yang lebih baik?


Tergantung, jika yang kita cari adalah uang, maka melakukan impor seperti contoh di paragraf terakhir baik untuk kita lakukan meski berdampak buruk bagi usaha lokal.

Jika yang ingin kita lakukan adalah demi uang namun juga dapat bermanfaat bagi sesama(membuka lapangan kerja, tidak menyaingi) maka melakukan impor-ekspor yang baik dengan mengikuti regulasi impor-ekspor yang sesuai aturan harus kita lakukan. Dan saya berani mengatakan bahwa yang seperti inilah yang akan bertahan lama.

Kamu mahasiswa? Masih mau menjadi pesaing industri dan usaha – usaha lokal?
Lakukanlah ekspor-impor dengan bijak, jangan sampai produk yang diimpor menyaingi produk lokal buatan saudaramu!

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon