Saturday, 26 September 2015

Kreator Muda Indonesia Pejuang Industri Kreatif Tanah Air

Pada tahun 2030 Indonesia diprediksi bakal menempati peringkat ke tujuh sebagai negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Seiring kekuatan ekonomi yang besar, maka kita punya andil yang besar dalam hal konsumsi dan produksi di tingkat global. Namun lambat laun PDB kita tidak bisa lagi bergantung pada sumber daya alam, dan haruslah beralih untuk menciptakan produk yang tidak habis ditambang dan digali, yaitu produk kreatif.
Pemerintah pun mulai menyadari hal ini dengan mendorong industri kreatif sebagai penopang ekonomi negara, dengan memberikan dukungan melalui Kementrian Industri Kreatif, yang kini berubah menjadi badan ekonomi kreatif. Sayangnya, hingga kini industri kreatif di Indonesia hanya menyumbang kurang dari 10% dari total PDB. Hal ini salah satu sebabnya adalah kurangnya kesadaran akan pentingnya kekayaan intelektual atau HKI. Meskipun bisa menciptakan nilai ekonomi yang besar, tidak banyak orang yang mengetahui bagaimana mengemas hasil karya intelektual ini dengan baik dan menjualnya ke khalayak yang lebih luas.

Terlebih, rendahnya pengetahuan tentang HKI membuat karya lokal tidak dihargai dengan pantas. Alih - alih memberikan penghargaan, masyarakat awam menganggap enteng dengan melakukan pelanggaran seperti menjiplak, menyontek hingga mencuri karya. Jika dibiarkan terus menerus, hal ini akan mendorong para kreator menjadi skeptis dan enggan berkarya. Buat apa berkarya, kalau tidak bisa menghasilkan? Dan buat apa menciptakan kalau dihargai saja tidak?

Ziliun.com bekerja sama dengan Marketeers menghadirkan 10 profil kreator terpilih yang berkarya dan patut diapresiasi oleh masyarakat luas. Mereka adalah perwakilan kreator muda pejuang industri kreatif, yang patut menjadi contoh bagi kreator penerus yang akan muncul selanjutnya. Mereka juga adalah kreator yang memperjuangkan agar hak kekayaan intelektual diberikan apresiasi yang layak.
Siapa saja mereka?

BENG RAHADIAN

Komikus lokal kini semakin bebas berekspresi, salah satunya adalah Beng Rahadian. Passion Beng pada komik dimulai sejak ia duduk di bangku kuliah. Selama kuliah, ia sudah aktif membuat komik pendek dan menerbitkannya dengan format fotokopian, hingga terbit sampai beberapa edisi.
Setelah lulus, Beng mengambil kesempatan bekerja sebagai animator di Malaysia. Tak lama, ia memutuskan kembali pulang ke tanah air. Selepas kepulangannya, Beng aktif mengisi workshop komik dan sempat menerbitkan komik berjudul Selamat Pagi Urbaz yang menjadi batu loncatan popularitas Beng di panggung komik Indonesia. Sejak itu, Beng kerap ditawari oleh koran nasional untuk mengisi kolom komik strip yang dimuat setiap Minggu.
Di 2005, Beng bersama dua orang temannya membentuk komunitas komik bernama Akademi Samali. Kegiatan komunitas yang lebih akrab disebut Aksam ini tidak hanya sekadar sharing soal dunia komik saja, tetapi juga mencakup workshop, pameran komik, festival komik, dan mendukung awarding untuk komik - komik lokal, seperti Kosasih Award.
Lewat Aksam, Beng yakin kalau potensi komik lokal dapat dikembangkan. Agar intellectual property lokal bisa go global, ini pesan Beng : " Perbanyak pergaulan internasional dan munculkan nilai - nilai universal yang bisa diterima masyarakat dunia."

BRYAN LIE

Apa yang terbayang saat mendengar istilah "perusahaan mainan"? Mungkin merek - merek besar seperti Lego dan Barbie yang pertama kali muncul di benak kita. Di Indonesia, juga ada sebuah perusahaan mainan, yang menamakan diri mereka Glitch Network.

Bryan Lie, seorang artist dan ilustrator, mendirikan Glitch Network di tahun 2011, dan membangun toy company tersebut dari nol. Salah satu karya Glitch Network yang luar biasa adalah rangkaian mainan bertajuk God Complex. Action figure berskala 1/6 ini berangkat dari sebuah ide untuk menggabungkan "tuhan" yang berbeda dalam setiap mitologi, dari Yunani, Jepang, hingga Mesir.

Saat memulai Glitch Network yang sebelumnya bernama Furbox Studio, Bryan Lie berhenti mengambil pekerjaan - pekerjaan lepas dan mulai fokus mengembangkan God Complex tidak hanya sebagai produk mainan, tetapi juga sebagai sebuah konsep dengan storyline, baik dalam pembangunan universe maupun ceriya tiap karakter mainan.

Seiring perkembangannya, Glitch Network memiliki beberapa divisi : produksi mainan, komik, ilustrasi, serta galeri seni. Divisi yang terakhir dikhususkan untuk mengurus sebuah galeri seni dan desain kontemporer di Singapura.

CHRIS LIE

Chris Lie adalah alumni Institut Teknologi Bandung. Kesuksesannya di dunia komik berawal dari hobi menggambarnya sejak kecil. Ia mulai terjun dalam pembuatan komik bersama teman kampusnya sejak duduk di semester 5.

Selama kuliah, Chris Lie mengikuti magang di perusahaan penerbitan ternama, Devil's Due Publishing. Selama magang tersebut, Chris Lie berkesempatan menggarap action figure, ilustrasi untuk cover dvd, kemasan, serta media promosi lain yang berkaitan dengan komik GI Joe Sigma 6 pada akhir tahun 2004. Setelah lulus kuliah, ia bekerja sebagai arsitek di Nyoman Nuarta Sculpture Park, Bandung. Ia lalu terbang ke Bali untuk menggarap taman budaya Garuda Wisnu Kencana.

Nama Chris Lie tidak asing di kalangan penggemar komik Amerika Serikat. Ia telah menghasilkan 40 komik yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, dan karyanya beredar di beberapa penerbit komik di Amerika Serikat. Komikus kelahiran Solo, 5 September 1974 ink adalah oendiri dan direktur Caravan Studio, studio ilustrasi dan komik yang berbasis di Jakarta.

Menurut Chris, agar intellectual properti lokal bisa go global, harus ada rencana bisnis dan rencana pemasaran yang tepat sasaran. Kini, selain mengurus Caravan Studio, bersama Andik Prayogo dan Yudhanegara Njoman, Chris Lie membangun reoncomics.com yang menerbitkan komik fisik karya dari komikus lokal secara berkala.

DENNIS ADISHWARA

Namanya lebih dikenal sebagai pemeran Mamet di film AADC (Ada Apa Dengan Cinta). Ternyata, Dennis Adishwara adalah sineas muda Indonesia yang tak hanya sekadar berakting tetapi juga aktif menggerakkan kreator Indonesia dari belakang layar.

Dennis mulai berakting pada tahun 1999. Wajahnya kerap kali muncul di layar lebar maupun televisi. Tahun 2006, Dennis sempat mendapatkan nominasi untuk kategori Pemeran Pembantu Pria Terbaik dari Festival Film Indonesia (FFI) atas perannya sebagai Bimo di film Jomblo.

Setelah puas berakting, Dennis mencoba berkarya di bangku produser dan sutradara. Dari 2003 hingga 2012, di sisi kreatif ia mencoba menyutradarai film pendek hingga video klip. Beberapa film yang disutradarainya adalah Kwalitet (2004) dan Kick and Love (2008) bersama Heru Effendy. Sementara, di sisi bisnis, ia mencari pendanaan dan investasi, serta mencari talenta - talenta baru yang potensial.

Pengalaman yang komprehensif ini membawanya mendirikan bisnis jejaring kreator online video lokal, bernama Layaria Network. Sebelumnya, Dennis juga mendirikan Komunitas Web Seies Indonesia. Lewat Layaria, Dennis "memoles" para kreator online video lokal dari segi produksi, serta membantu mereka mempromosikan hasil karyanya.

ENO BENING

Banyak yang resah melihat perfilman Indonesia yang masih didominasi film tidak bermutu, tapi tidak banyak yang melakukan sesuatu untuk mengubah itu. Eno Bening adalah salah satu yang berusaha memberikan alternatif tontonan kepada penonton Indonesia melalui passionnya menjadi sutradara.
Lulusan Filsafat Universitas Indonesia ini sudah menenteng kamera kemana - mana sejak SMA. 

Hadirnya platform YouTube membuatnya bisa mengekspresikan diri lewat video. Maka pada 2007, seraya memanfaatkan momentum vakumnya kegiatan theater di sekolah, ia membuat CleanSound Studio. Konsistensinya memproduksi dan mengunggah berbagai video di kanal YouTube CleanSound Studio membawanya memenangkan beberapa lomba video.

Singkat cerita, saat ini CleanSound Studio telah tumbuh dan memiliki 17.000 subscribers dengan berbagai playlist, mulai dari yang berbau misteri berjudul Misteri Malam, hingga web series tentang dunia kampus berkudul Ngampus. Selain berkarya lewat CleanSound Studio, Eno selama dua tahun terakhir juga menjadi Production Manajer di Layaria, sebuah jejaring kreator video online di Indonesia.

FAZA MEONK komik si juki

Faza Ibnu Ubaydillah Salman atau yang lebih dikenal sebagai Faza Meonk adalah komikus lulusan animasi Universitas Bina Nusantara yang melahirkan karakter Si Juki. Kariernya bermula sejak ia iseng - iseng menggambar untuk kepuasan pribadi dan disebarkan secara sporadis ke teman - teman sekolahnya. Ketika komiknya banyak mendapatkan tanggapan positif, Faza mulai membuat komik secara serius, yang kemudian diunggah di blog pribadinya dan akhirnya dibukukan.

Tidak disangla, karakter Si Juki mendapat sambutan hangat dari pembaca komik di Indonesia. Kelahiran Si Juki ini dijadikannya sebagai proyek character branding untuk pasar lokal, dikarenakan kegelisahan Faza akan karakter lokal yang sedikit sekali bisa populer di tanah air. Lebih jauh lagi, kegelisahan ini membawa Faza mendirikan manajemen kekayaan intelektual berbasis karakter bernama Pionicon Management. komik si 
juki
Melalui Pionocon, hasil karya komikus bisa diekspresikan ke khalayak umum dan bisa dikembangkan lagi ke berbagai medium. Faza yang tengah aktif mengajar di Bina Nusantara sangat berharap setiap komikus dapat memaksimalkan intellectual property dalam setiap karyanya.
"Keunikan konten sangat penting. Banyak hal - hal unik dari Indonesia baik dari segi budaya, ciri khas, yang bisa kita angkat dan menjadikan intellectual property sebagai sesuatu yang unik di mata dunia. Selain konten, dibutuhkan strategi yang efektif dan tepat dalam membidik target market produk intellectual property kita baik di pasar dalam ataupun luar negeri," kata Faza. komik si juki

OKTO BARINGBING

Lulusan desain Institut Teknologi Bandung ini awalnya membentuk studio komik dengan dua temannya, Seta dan Bayu, yang mereka namakan KostKomik. Sejak 2007, KostKomik sempat membuat beberapa komik, seperti debut komik bisu berjudul B.O.C.A.H dan serial komik Merdeka yang diterbitkan oleh penerbit Koloni.

Konsistensi Okto Baringbing berkarya sebagai colorist dan comic writer membuahkan hasil saat komik buatannya bernama Muhammad Fathanatul Haq yang berjudul "5 Menit Sebelum Tayang" memenangkan Silver Award di 6th International Manga Award pada tahun 2013. Kompetisi bergengsi yang diikuti oleh 244 peserta dari 38 negara menjadi ajang pembuktian Octo Baringbing tentang kualitas cerita komik Indonesia. Ternyata, waktu itu day job Octo sebagai video editor di sebuah stasiun televisilah yang menjadi sumber idenya. Dari situ Octo percaya kalau research menjadi modal utama untuk menyusun cerita komik yang kuat.

Saat ini, Octo sudah keluar dari pekerjaannya di dunia televisi dan fokus menjadi komikus. Kesibukannya adalah menjadi comic writer di reoncomics.com berjudul Galauman dan juga menjadi penulis komik di penerbitan komik lokal yang diluncurkan di event POPCON ASIA 2015. " Buatlah intellectual property lokal sebagus mungkin, kemudian proaktif menerjemahkan ke dalam bahasa internasional dan memperkenalkannya ke pasar luar. Terus berusaha." kata Octo.

SHEILA ROOSWITHA

Selain menulis, banyak medium yang bisa digunakan untuk bercerita. Salah satunya dengan komik seperti yang dilakukan komikus sekaligus ilustrator kenamaan dari Fabula Agency Sheila Rooswitha.
Sheila Rooswitha sejak kecil memang sudah memiliki hobi menggambar. Ia mulai jatuh cinta pada komik sejak membaca serial komik Eropa, seperti Tintin. Dari situ, Sheila kecil senang meniru gambar dari komik yang dibacanya dan mulai bermimpi menjadi komikus. Akhirnya ketika ingin masuk bangku kuliah, Sheila memilih jurusan desain yang dekat dengan aktivitas menggambar.

Keseriusannyamembuahkan debut komik berjudul Cerita Si Lala, yang terinspirasi dari kehidupan sehari - hari Sheila. Cerita Si Lala mendapatkan respon baik dari pembaca karena ceritanya dirasa sangat related dengan kehidupan pembaca sehari - hari. Dalam Cerita Si Lala Sheila pernah menceritakan pengalaman bersama keluarga melakukan road trip ke Jawa Timur, mulai dari cerita melewati jalur Pantura yang rusak sampai ke cerita tentang tempat - tempat wisata yang mereka kunjungi. Siapa sangka, cerita khas Indonesia tersebut masuk ke dalam antologi komik di Asia Tenggara berjudul Liquid City !

Tak cuma itu, Sheila juga membuat komik slice of life tentang kehidupannya bersama keluarga kecilnya yang dimuat di Facebook Sheila's Playground. Penceritaanya yang natural memikat hati para pembaca dan menjadi ciri khas komik - komik buatan Sheila.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon