Monday, 7 September 2015

Rasanya Setengah Tahun Tanpa Laptop itu

Tags


Bukan sesuatu yang mudah--pastinya--bagi saya sebagai seseorang yang suka menulis di blog, suka otak - atik desain 3D menggunakan Autodesk Inventor dan suka main Pro Evolution Soccer atau PES di laptop.

Saya mencintai waktu - waktu saya di depan laptoo, entah itu kegiatan produktif seperti menulis blog, belajar bahasa inggris melalui audiobook bilingual, ataupun untuk kegiatan buang - buang waktu seperti main game, browsing sampai lupa waktu, dll.

Berawal dari hilangnya laptop pertama pemberian orang tua saya di awal 2013, waktu itu saya baru masuk semester enam.

Lalu, beberapa minggu kemudian saya dibelikan laptop baru oleh ibu saya. Sayangnya, waktu itu saya kurang berpikir panjang, padahal ibu sudah bilang supaya membeli laptop dengan spesifikasi yang sama dengan yang sebelumnya.

Karena rasa bersalah yang berlebih, akhirnya saya memutuskan untuk membeli laptop dengan spesifikasi jauh lebih rendah dari yang sebelumnya.

Tidak mendengarkan nasihat orang tua merupakan awal sebuah bencana. Tak sampai dua tahun, performa laptop tersebut turun secara signifikan. Cepat panas, dipakai untuk memutar video (nonton film) mati, dipakai untuk menjalankan program microsoft office kecepatannya 11-12 dengan seri pentium. 

Akhirnya, daripada mati total, laptop tersebut sampai di salah satu kios komputer di pusat belanja elektronik di Jogja.

Setengah tahun tanpamu, begini nasibku

Tanpa laptop. Untung syarat untuk menjadi makhluk hidup itu tidak berbunyi bahwa untuk hidup semua orang harus memiliki laptop. Alhamdulillah saya masih hidup sampai hari ini men. Hehehe.

Awal - awal terasa sulit, biasanya bangun tidur online baca berita, karena tidak ada laptop lantas kebiasaan tersebut berkurang, bahkan sampai hari ini saya akui bahwa saya jarang baca berita, lewat media online melalui handphone sekalipun.

Tapi, tanpa laptop, saya akhirnya punya kebiasaan baru, horee, yaitu tambah suka baca buku, lebih sering keluar kandang (kosan), lebih sering bergaul dengan orang lain.

Ada hal negatif dan positif. Tapi lebih banyak hal positif yang saya rasakan sejauh ini. Saya yakin tentang hal yang saya tulis di kalimat terakhir barusan.

Bagaimana dengan tugas kampus? Untuk urusan kampus, kebetulan di semester delapan sudah tidak ada lagi tugas - tugas desain yang memerlukan komputer untuk membuatnya.

Tugas - tugas di kampus, belakangan, cuma tugas biasa, menyelesaikan soal yang ada di buku atau ebook (buku elektronik) dan menuliskannya di lembaran kertas.

Ada juga yang mengharuskan saya meminjam laptop teman dan mengerjakan menggunakan smartphone. Kalau meminjam laptop teman itu misalnya saat saya menyelesaikan tugas matematika teknik 2.

Khusus mata kuliah ini soal diambil dari pusat belajar elektronik ugm, yak benar, di elisa ugm, dan jawabannya juga disubmit di elisa juga. Akhirnya karena di smartphone tidak ada menu untuk menuliskan rumus matematika, jadilah saya meminjam laptop teman untuk mengerjakan tugas tersebut. Alhamdulillah rampung.

Nah, kalau yang menggunakan smartphone itu tugas K2L atau Keselamatan dan Kesehatan Lingkungan. Tugas itupun dikerjakan waktu sedang Kerja Praktik di salah satu perusahaan semen di Cilacap.

Tugasnya tidak terlalu ribet untuk dikerjakan di smartphone, soalnya cuma mencari artikel, lalu analisa isi artikel yang berkaitan dengan keselamatan kerja dan tulis hasil analisa tersebut dibawahnya. Setelah itu tuliskan juga saran dan masukan agar hal yang sama tidak terjadi lagi.

Tidak ribet, bukan? Makanya saya kerjakan di smartphone. Hayoo, siapa diantara kamu yang pernah menggunakan smartphone untuk mengerjakan tugas kampus? Ingat, bukan untuk memfoto tugas teman lalu memindahkan isi foto tersebut ke lembar jawaban ya. 

Setahun tanpa laptop. Apa lagi ya? Yang jelas hal tersebut menyenangkan karena saya sadar kalau ada laptop mesti lebih sering di depan laptop. Meskipun yang dilakukan seperti edit foto dengan photo shop, otak - atik corel draw, browsing apapun entah itu yang nambah pengetahuan atau tidak sama sekali, tetap saja berlama - lama di depan laptop bukanlah hal yang bagus.

Dengan laptop saya bisa bikin website, nulis blog. Produktif, bukan? Tapi saya merasa bahwa saya harus jauh - jauh dulu dari laptop. Keseringan di depan laptop mengurangi sense sosial seseorang, karena biasanya orang yang kecanduan berlama - lama di depan laptop jarang berinteraksi dengan orang lain. Paling kalau berinteraksi ya interaksi seadanya. Hal tersebut bisa membuat seseorang kurang empati, bahkan cenderung apatis. Bahaya.

Nah, kalau kamu bertanya - tanya, dari mana asal tulisan - tulisan saya semenjak tidak memiliki laptop (nopember 2014) sampai tulisan ini terbit (agustus 2015). Tulisan - tulisan tersebut berasal dari smartphone. Bukan smartphone canggih kok. Brand lokal malah. Maklum, saya pecinta produk lokal, hehe. Yang saya pakai sekarang adalah Andromax U3. Beli second lagi, bukan BNIB, wehehe.

Lalu, pada akhirnya saya mengajak untuk laptop addicted untuk mulai memikirkan kemampuan bersosial yang mulai luntur karena lebih sering di depan laptop atau pc daripada berhadapan dengan manusia. 

Sekalipun yang kamu lakukan adalah hal produktif, tetap saja, jangan terlalu kecanduan berhadapan dengan personal komputermu. Awas lo jadi apatis. Men. :)

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon