Thursday, 3 September 2015

Testimoni Untuk PT Kereta Api Indonesia untuk Ketepatan Waktunya

Tulisan ini adalah tentang pengalaman pribadi saya ketika ke Jakarta Lewat Bandung, Naik Kereta.

17 Hari setelah lebaran, kupikir tidak akan susah mendapatkan tiket kereta di hari tersebut. Tapi. Di luar harapan tersebutlah kenyataan terjadi. Tiket kereta untuk H + 17, atau Sabtu 1 Agustus 2015, dari Jogja ke Jakarta, LUDES.

Padahal aku memeriksa di reservasi online tiket kereta api itu lima hari sebelumnya. Tiket kereta ke arah yang sama dari Jogja untuk kamis dan Jumat juga sudah habis. Tidak diketahui kenapa bisa demikian, apakah masih ada sebagian masyarakat yang libur  atau tidak, saya tidak tahu. Dua hari sebelum berangkat saya gelisah, gimana ya biar bisa sampai di waktu yang sesuai dengan rencana awal.

Akhirnya, saya memeriksa tiket tujuan Bandung. Ternyata ada, Alhamdulillah. Untuk bisa sampai ke Jakarta, tentu saya harus  pesan tiket kereta Bandung-Jakarta juga. Opsi atau pilihan yang ada waktu itu cuma Argo Parahyangan dengan berbagai pilihan jadwal keberangkatan. Mulailah aku memilah – milah jadwal kereta.
Awalnya aku pilih untuk naik mutiara selatan yang berangkat dari stasiun Tugu Yogyakarta tepat setengah satu malam. Di laman tiket.com dan laman reservasi online resmi milik PT. KAI, tiket KA Mutiara Selatan masih ada. Menurut jadwal, kereta berangkat dari stasiun Tugu Yogyakarta setengah satu dinihari, lalu (sesuai jadwal) akan tiba di stasiun Bandung Hall jam sepuluh pagi. Untuk bisa sampai ke Jakarta maka aku harus melanjutkan perjalanan menggunakan KA Argo Parahyangan. 

KA Argo Parahyangan yang melayani rute Bandung-Jakarta (PP) beroperasi sejak jam lima subuh. Dari pilihan jadwal dan pilihan harga yang tersedia akhirnya saya pilih KA Argo Parahyangan yang berangkat dari Stasiun Bandun Hall jam 11.50 siang. Sehingga aku punya satu jam jeda untuk berganti kereta. 

Lagi – lagi, kenyataan menjauhi harapan. Sampai ke loket reservasi, setelah sekitar lima belas menit mengantri, ternyata tiket KA Mutiara Selatan habis. Lalu, di depan loket tersebut aku harus ambil keputusan mau naik kereta yang mana. Supaya sesuai jadwal, akhirnya setelah memeriksa jadwal kereta jogja-bandung dan bandung-jakarta, aku memilih Lodaya Pagi yang berangkat 8.08 pagi dari stasiun Tugu dan tiba pada 16.00 di Stasiun Bandung Hall. 

Untuk Argo Parahyangan, aku pilih yang berangkat jam 16.15. Setengah perjudian, kalau telat sampai Bandung tiket akan hangus, kalau sampai tepat waktu hingga telat dalam toleransi waktu 10 menit, aku masih bisa selamat, bisa berangkat dengan tiket yang sudah aku pesan dari Stasiun Lempuyangan.

Oh iya, sekadar sharing, untuk pemesanan tiket kereta aku lebih memilih stasiun Lempuyangan ketimbang Stasiun Tugu, karena di Lempuyangan antreannya lebih sedikit dibanding di Stasiun Tugu. Kalau lagi di Jakarta, aku pesan tiket tidak di stasiun Pasar Senen, pilihan terbaik adalah Stasiun Jatinegara, karena setelah dua kali akhir – akhir ini di Jakarta, aku bisa pesan tiket tanpa mengantri.

Ingat bahwa sistem reservasi tiket kereta api menggunakan sistem online, jika sekarang sudah familiar dengan alfamart, indomaret, tiket.com, dll, yang bisa diandalkan untuk menghindari antrean pemesanan tiket kereta, pemesanan di stasiun yang bukan merupakan stasiun keberangkatan juga bisa dilakukan.
Sebagai pengguna kartu bukti diri sebagai keluarga karyawan kereta api, yang mendapat reduksi 50% jika menggunakan kartu ini saat memesan tiket kereta api, maka aku wajib pesan langsung ke stasiun, tidak bisa melalui jaringan lain seperti indomaret, alfamart, tiket.com, dll. Oke, balik lagi ke benang merah tulisan ini. Singkat cerita, akhirnya aku jadi berangkat ke Jakarta melalui Bandung.

Baca juga : Pesan Makan di Argo Parahyangan (Jakarta-Bandung). Menunya Enak - enak. Berapaan Gan?

Jujur saja nih gaes, dari sekian kali menggunakan moda transportasi kereta api, baru kali ini nih aku naik kereta Jogja-Bandung. Tidak begitu penting hal tersebut merupakan pengalaman pertama atau bukan. Namun, karena dibayang – bayangi oleh tiket Argo Parahyangan yang sudah di tangan, yang kalau kereta Lodaya Pagi itu telat sampai, maka tiket KA Argo Parahyangan hangus. 

Karena baru pertama kali, aku tidak begitu tahu tentang berapa kali kereta tujuan Bandung berhenti. Jadi tidak bisa menerka – nerka kalaupun akan telat, telatnya karena apa aku tidak bisa menebak. Sebenernya, jika mengingat kelas kereta yang sedang aku tumpangi hari itu, hyoi kelas eksekutif (tuh kelihatan saking jarangnya naik kereta mahal jadinya pamer), seharusnya kereta tiba di stasiun Bandung tepat waktu atau bahkan lebih cepat. Penumpang di sebelahku tak lupa aku tanya, kira – kira sampai di Bandung jam berapa ya Bu. 

Beliau adalah orang Bandung dan sering menggunakan kereta yang sedang kami tumpangi. Selain soal jadwal, aku juga bertanya tentang desain stasiun Bandung, ada terowongannya tidak ya bu? Tanyaku waktu itu, jika ada terowongan, maka aku harus cepat karena jika seperti stasiun Senen yang memiliki tunnel, biasanya untuk pindah kereta cukup susah. Harus naik turun tangga dulu, lewat terowongan, cek tiket, lalu baru masuk kereta. Sebenarny bukan kali pertama aku ke stasiun Bandung. 

Dulu, sekitar pertengahan 2012 aku pernah ke sini, tapi dari jakarta, untuk nonton kontes robot nasional di sabuga, itb. Walau bukan yang pertama, rangkaian perbaikan di area stasiun seperti stasiun senen dan stasiun tugu yang cukup banyak perubahan tatanan arus keluar masuk penumpang, makanya saya tetap tanya, itu stasiun Bandung ada terowongannya tidak, siapa tahu kan, yang dulu tidak ada (di 2013) sekarang  ada. 

Dari jawaban beliau, hatiku sedikit legaaaaaaaa. Kata si ibu, keretanya biasanya tepat waktu, dan kalaupun mengalami keterlambatan, paling terlambatnya hanya lima menit. Setelah aku ceritakan masalah tiket tersebut, ibu tadi langsung mengerti perasaanku. Langsung ngerti kenapa aku bertanya ini itu. Hiks. 

Dikira tiketku full kali ya, jadi kalau hangus lumayan buang duit. Hehe. Belum tau dia. Alhamdulillah, singkat cerita kereta sampai di Stasiun Bandung Hall tepat waktu, jam 4 pas. Karena jam empat pas itu menurut versi jam di handphoneku, akupun tetap memaksakan turun lebih cepat, karena takut kalau jam yang ditunjukkan ponselku berbeda dengan jam di stasiun. 

Saat melompat dari pintu, ternyata di depanku ada bapak – bapak petugas stasiun, langsung saja aku bertanya, ” Argo Parahyangan  di jalur berapa Pak?”, “Jalur enam mas, itu di situ keretanya” jawab si bapak sambil tersenyum. Aku mengucapkan terimakasih sambil terus berjalan ke arah yang dimaksud.
Beruntung, dua tiket yang salah satunya setengah nekat tersebut terpakai semua. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa tiba di Jakarta sebelum jam delapan malam.



baca juga : 

Artikel Terkait

1 komentar so far


EmoticonEmoticon