Tuesday, 27 October 2015

Cerita KKN PPM Desa Cinta Asih Garut

Sejak Desember 2013, tim pengusul sudah mulai bergerak, bekerja, mengurus berbagai hal hanya supaya KKN di Desa Cinta Asih disetujui. Ada tujuh orang yang terlibat sejak awal sebagai tim pengusul, mereka adalah Reza Pradecta, Reza Ariesta, Ola, Damar, Roy, Ferro dan Rayyi. Pada akhirnya, tim pengusul berhasil membuat KKN-PPM untuk Desa Cinta Asih lolos seleksi. 

Matahari seolah - olah jatuh, dalam sekejap disapu oleh waktu. Sore itu, menjelang maghrib, kami bersiap untuk menyantap hidangan buka puasa yang telah kami siapkan. Kami masak sendiri. Ya, kuliah kerja nyata menyediakan peluang untuk melatih atau belajar kemampuan, salah satunya memasak. 

Seketika, kami mulai menekuni hidangan buka puasa yang telah tersedia didepan kami setengah jam sebelumnya, ketika adzan maghrib berkumandang. Alhamdulillah, hari pertama di pondokan mahasiswa, waktu itu, cukup banyak yang bisa kami kerjakan.

Meski sedang puasa, hari ini Kami sudah mulai kerja bakti, mulai dari membersihkan seluruh isi rumah yang sudah kosong selama kurang lebih tiga puluh hari itu, sampai menyiapkan hidangan berbuka puasa.

Rumah tersebut baru kosong sejak lebih dari tiga puluh hari sebelum kami tempati. Sebelumnya, ada alm. Mak Nani yang tinggal seorang diri di rumah ini. Mak Nani meninggal pada Jumat, 6 Juni 2014. Almarhumah meninggal di usia 103 tahun. 

Beliau sudah cukup lama tinggal sendirian di rumah ini, anak - anaknya, yang semuanya sudah berusia 30 tahun ke atas, telah berkeluarga dan memiliki kehidupan sendiri - sendiri yang harus dijalani, ada yang merantau ke wilayah timur Indonesia, namun ada juga yang tinggal di desa tetangga, yang jaraknya sangat dekat dengan Dusun Suka Senang.

Suami Mak Nani sendiri sudah meninggal puluhan tahun yang lalu. Karena itulah Mak Nani akhirnya menjalani kehidupan sendirian di rumah yang kami jadikan pondokan mahasiswa ini. Almarhumah dikebumikan di halaman belakang rumah ini, tepat di sebelah makam suaminya.

Tenang, tidak ada cerita horor dalam buku ini, meskipun di hari terakhir, aku mencium aroma bunga, seperti bunga kenanga, tapi bukan kenanga, namun juga termasuk jenis bunga yang identik dengan mistis, baunya tercium sangat kuat saat aku sedang mandi. Seolah tak punya hidung jika baunya tidak kecium, menyengat sekali.

Entah kenapa pada akhirnya sub unit 1, sub unit di mana aku merupakan salah satu anggotanya, tinggalnya di rumah ini. April 2014 waktu itu, saat beberapa anggota unit melakukan survey sekaligus mencari calon rumah pondokan untuk ditinggali ke  dusun ini, hasil yang mereka sampaikan waktu rapat bukanlah rumah ini, ada rumah lain.

Aku sempat bertanya ke Pak Ajun--Kami lebih suka memanggilnya Pak Jun--mengenai alasan kenapa Kami tidak jadi di rumah yang waktu itu sudah dicarikan untuk kemudian disulap menjadi pondokan mahasiswa. 

Kata Pak Jun, sih, karena rumah yang sebelumnya tidak memiliki kamar mandi dalam. Jadilah kami tinggal di rumah almarhumah Mak Nani, sepeninggalan almarhumah. Rumah ini memiliki kamar mandi dalam, ada kloset dan di luar ada septictanknya.

Pak Jun berusia sekitar empat puluh lima tahun-an, hanya perkiraan saja, karena aku memang belum sempat menanyakan usia beliau selama kuliah kerja nyata di sini. Kulitnya hitam, garis wajahnya menunjukkan bahwa pemiliknya sarat pengalaman. Tingginya 160-an, beratnya seimbang dengan tinggi tubuhnya. Beliau adalah mantan ketua RT di dusun ini.

Calon rumah untuk pondokan mahasiswa sebelumnya memang tidak memiliki kamar mandi dalam. Jika tinggal di rumah yang tidak jadi ditempati ini, maka kami harus menggunakan MCK yang akan kami perbaiki. Sebuah MCK umum yang digunakan sekitar 20 KK (Kepala Keluarga).

Di sini masalahnya, sahabat, MCK yang akan diperbaiki tersebut, ternyata belum memenuhi standard kelayakan. 

Luas area MCK secara keseluruhan--sudah termasuk bak penampungan air dan lantai tempat mandi serta mencuci pakaian--4x5 meter persegi. Memiliki bak penampungan bertingkat, difungsikan untuk penyaringan, jumlahnya dua. Jadi, ada dua bak penampungan, disusun seri.

Di sebelah timur bak penampungan hanya ada lantai kosong, terbagi dua, utara dan selatan, dengan luas yang hampir sama. Kedua bilik tadi hanya lantai kosong, tidak ada kloset. 

Temboknya hanya sepinggang, mungkin hanya 100 centimeter, lebih dikit. Kalau mandi, harus jongkok, harus pakai kemben¹. Saluran airnya berakhir di kolam ikan yang berada di sebelah MCK umum ini. 

Limbah detergen dan segala sabun berakhir di situ, bercampur dengan air kolam yang sepertinya tidak akan pernah mau surut. Hebatnya, di kolam berukuran 10x10 meter persegi itu ada ikannya, ikan mujair, dan ukurannya besar - besar. 

Entah apakah dari awal MCK umum tersebut dibangun, memang difungsikan untuk buang air besar. Jikapun tidak, faktanya iya, hari pertama sampai di Dusun Suka Senang, sehari sebelum menempati rumah pondokan mahasiswa, kami bersama pembimbing lapangan, Bapak Ir. Prajitno, kebetulan melewati MCK umum yang akan Kami perbaiki ketika hendak bertamu ke Pak Jun (sebagai penanggung jawab keamanan mahasiswa KKN di Dusun Suka Senang), saat itu ada kotoran manusia berserakan di lantai MCK. Sepertinya kotoran anak - anak, tapi di beberapa titik, tidak hanya satu.

Di kolam juga ada  kotoran manusia yang mengambang, menunggu sambaran ikan - ikan mujair yang memang tidak pernah diajarkan mana yang sebaiknya  dimakan dan tidak.

Itulah mengapa kami disuruh menempati rumah almarhumah Mak Nani. Agar Kami nyaman tinggal di Dusun Suka Senang selama masa KKN berlangsung. 

Sebenarnya, KKN-PPM UGM di dusun ini bisa saja tidak jadi diadakan. Benar, jika tidak ada bantuan dari warga, tidak ada kerjasama yang baik antara pihak mahasiswa dan warga, bisa saja kami gagal melaksana kan kuliah kerja nyata yang kami usung di dusun ini.

Sempat, diakhir masa KKN, aku ngobrol sama Pak Dedi--kami lebih senang memanggilnya Mang Ded--, beliau adalah salah satu Ketua RW di dusun ini, kebetulan MCK umum yang akan diperbaiki masuk wilayah tanggung jawab Mang Ded.

Mang Ded lebih tinggi dariku, tingginya 170 centimeter. Badannya berisi, sedikit buncit. Masih cukup muda jika dibanding Pak Jun. Kami paling senang kalau kerja dan ada Mang Ded, tentu bukan berarti kami tidak senang kerja tanpa ada Mang Ded. Mang Ded lah yang paling vokal waktu itu, vokal mengeluarkan kata - kata yang mengocok perut. Sehingga jika mengingat nama orang ini, bayangan yang muncul dalam imajinasi adalah ketawa.

Waktu itu, Mang Ded bilang bahwa awalnya beliau memang tidak mempersilahkan ada KKN di dusun. Pak Jun, mantan ketua RW sebelumnya menyampaikan kepada Mang Ded bahwa akan ada yang KKN di sini dan tinggalnya juga di dusun ini.

Di situlah letak masalahnya, Mang Ded dengan berat hati menolak--entah Pak Jun menyampaikan ke Kang Reza Pradecta atau tidak--, keamanan dan kenyamanan mahasiswa, kenyamanan dan kemanan Kami, adalah alasannya.

"Mau tinggal di mana mereka nanti Mang Jun?", seperti itulah kata - kata Mang Ded mengisahkan percakapannya bersama Pak Jun beberapa bulan sebelum menerima Kami waktu itu.

Ya kalaupun ada, nyaman atau tidak, aman atau tidak. "Itu kan anak orang semua, jauh - jauh dari Jogja, mau KKN ke sini, kasihan kalau ga nyaman." Lanjut Mang Ded bercerita waktu itu.

Namun akhirnya, warga bisa menyediakan tempat tinggal yang sudah lebih dari cukup bagi kami. Meski mandinya harus ngantri, tidak seperti di kost dengan toilet di dalam kamar ataupun toilet yang tinggal pilih seperti di kostku, yang tidak akan membuat ngantri kalau mau mandi.

Yang jelas, sebuah rumah pondokan dengan kamar mandi dalam merupakan rezeki bagi Kami di sub unit 1. Kalau di sub unit satunya, sub unit 2, yang pondokannya berada di Dusun Cinta Laksana, kamar mandinya sudah kamar mandi dalam, begitu juga rumah penduduk di sekitar pondokan, sepertinya tidak sulit cari rumah dengan kamar mandi dalam di Dusun Cinta Laksana, hal yang berkebalikan dengan Dusun Suka Senang. Kami beruntung.

Apalagi mendengar cerita teman - teman yang KKN di lokasi lain, yang mengalami kesulitan buang air besar karena susahnya MCK dan air bersih. Ya, Kami bersyukur, karena Kami lebih beruntung. 
Membuat MCK umum tadi--MCK umum  yang telah diceritakan di atas--menjadi lebih baik merupakan salah satu program pokok Unit JBR04 di 2014. Sesuaikah apa yang kami lakukan dengan tema lingkungan kritis? Seharusnya iya.

Kehidupan di lereng gunung ternyata juga mengalami masalah kekurangan air bersih. Sumber mata air memang ada banyak di atas gunung, namun perbedaan ketinggian antara rumah penduduk dan lahan pertanian dibandingkan dengan ketinggian sumber mata air seolah - olah memaksa lahan menjerit, meminta jalan keluar baru agar (lahan) bisa dialiri air dengan baik.

Ciri khas lain kehidupan di lereng gunung adalah pipa - pipa air yang tak sulit ditemui di pinggir jalan. Air di dalam pipa ini tentu ditujukan untuk urusan rumah tangga, bukan untuk pertanian, kalau di kota.

Tapi kehidupan di kota, pastilah berbeda dengan kehidupan di Desa Cinta Asih. Cinta Asih hanya desa biasa di Kabupaten Garut, yang lama perjalanan untuk sampai ke desa tersebut menggunakan angkot, dari Garut Kota, tak kurang dari tiga puluh menit.

Pipa - pipa pvc² berdiameter 1-2 inch melayani suplai air ke rumah - rumah warga. Saluran air ini dipasang dari sumber mata air sampai ke bak penampungan, entah itu bak penampungan umum atau langsung ke bak penampungan di kamar mandi rumah.

Selain berperan melayani suplai air untuk keperluan rumah tangga, air yang mengalir di dalam pipa ini juga dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian.

Pangkal saluran air (pipa -pipa) ini dipasang di dekat mata air, biasanya tidak terlalu dekat dengan sumber munculnya mata air, karena alirannya masih terlalu kecil untuk dialirkan melalui pipa.
Sebelum dialirkan melalui pipa/selang, kucuran air yang berasal dari sumber mata air tadi dibendung dulu.

Bendungan kecil wajib dibuat, kau tak mungkin mengharapkan aliran air yang deras di ujung pipa jika dipangkal pipa hanya masuk tetes - tetesan air.

Sampai di titik tertentu, di mana pancuran air sudah berkumpul cukup banyak dan cukup untuk dialirkan, disitulah dibuatkan bendungan kecil tempat meletakkan mulut pipa, pangkal dari saluran air.

Begitulah bagian hilir saluran air bersih andalan warga Desa Cinta Asih. Cerita tentang air belum cukup sampai di situ. Masih ada lagi.

Pipa - pipa plastik dan karet berukuran 1-4 inchi belumlah cukup untuk menyuplai air tiap - tiap rumah. Ada hal menarik yang baru aku ketahui setelah mengikuti KKN waktu itu. 

Mata air ternyata tidak berkumpul di ketinggian tertentu saja. Jauh dari mata air yang letaknya lebih dekat ke puncak gunung, dan berada di ketinggian yang cukup rendah dari Dusun Suka Senang, ada mata air juga.

Mata air yang ini menyuplai kebutuhan air Dusun Cinta Laksana. Dusun Cinta Laksana berjarak satu kilometer dari Dusun Suka Senang.

Kalau lokasi mata airnya sendiri, ibaratkan saja jaraknya adalah 600 meter dari Dusun Suka Senang. Sehingga mata air ini juga bisa diandalkan untuk menyuplai air bersih ke dusun yang letaknya lebih rendah atau setelah Dusun Suka Senang.

Pipa paralon ukuran empat inchi yang dipasang dari sumber mata air ini sampai ke bak penampungan di dekat mushollah bawah--aku menyebutnya mushollah bawahkarena ada dua musholla, yang satu diatas dan satu di bawah--adalah salah satu andalan warga dalam memenuhi kebutuhan air bersih warga cinta laksana.

Namun sayang, karena ujung saluran air ini ditujukan ke bak penampungan mushollah bawah, jadi yang mendapat manfaat dari mata air ini hanya warga yang berada dekat mushollah bawah ini dan warga yang rumahnya berada di ketinggian yang lebih rendah dari mushollah bawah.

Selain itu, saluran pipa terpaksa dibuat memutar karena letak sumber mata air lebih rendah dari perumahan warga Cinta Laksana. Letak musholla bawah masih cukup untuk membiarkan pasokan air jatuh ke bak penampungan.

Oh iya, Desa Cinta Asih ini perkampungan yang bentuknya memanjang, mengikuti jalan. Perumahan warga lebih cenderung minggir ke jalan. Ya, maksudku, rumahnya tidak jauh dari tepi jalan desa.

Mushollah bawah dan mushollah ataspun letaknya di tepi jalan desa. 

Agenda besar berikutnya, terkait keberadaan kami di Desa Cinta Asih yakni, untuk memperkenalkan teknologi ramah lingkungan yang bisa diaplikasikan atau dipakai di desa ini. Terkait air. Benar sekali.
Wilayah Desa Cinta Asih yang didominasi tanah miring dan  bukit - bukit kecil adalah tempat yang pas untuk diaplikasikannya pompa hidram³.

Dengan memanfaatkan beda ketinggian lahan, pompa hidram mampu mengalirkan air sampai ketinggian tertentu, berapapun panjang saluran pipanya.

Dengan memanfaatkan pompa hidram ini, kami bisa membuat air masuk ke bak penampungan musholla atas. 

Berikutnya adalah cerita tentang pertanian di Desa Cinta Asih. Pertanian termasuk hal yang tak kalah menarik untuk dibahas jika membahas Desa Cinta Asih.


Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Begitulah kata Koes bersaudara atau Koes Plus dalam lirik lagu "Kolam Susu". Lirik tersebut mengatakan bahwa tanah Indonesia adalah tanah yang sangat subur.

Benar saja, ternyata tanah desa ini merupakan salah satu tanah tersubur yang bisa ditanami apa saja. Kalau kata Kang Sasa,  warga desa, "di sini tuh apa aja bisa tumbuh, cinta aja bisa".

Pak Juju adalah satu petani  di Cinta Asih, yang juga merupakan tetangga kami, rumah Pak Juju sangat dekat dengan pondokan mahasiswa sub unit 1. Percakapan di satu malam, di perapian rumahnya, waktu itu, menuju kepada sebuah kesimpulan. Tanah, tidak sesubur dulu.

Pak Juju telah tinggal di Dusun Suka Senang sejak 1985. Beliau merupakan satu dari segelintir orang yang telah tinggal di Suka Senang dalam waktu yang lama.

Segelintir orang yang hidup di dusun ini, dulu (1995), rumahnya berjauhan, tidak berkelompok seperti sekarang. Jarak antar rumah tak kurang dari 200 meter. Tidak lebih dari tiga kepala keluarga yang tinggal di dusun ini awalnya.

Pantaslah jika Pak Juju memiliki lahan pertanian yang mungkin paling luas diantara  petani - petani lainnya di dusun ini.

Balik lagi ke masalah tanah. Maksudku, tentang kesuburan tanah. Penggunaan pupuk kimia untuk lahan pertanian secara terus menerus dalam kurun waktu yang lama sudah diketahui akan menghilangkan kesuburan tanah.

Seperti narkoba, pupuk kimia ini bersifat addictive, dan kalau tidak digunakan, tanah akan bereaksi buruk. 

Tanah yang sudah menerima (dipupuki) bahan kimia, akan terus - terusan meminta dikasih bahan kimia. Pupuk kimia.

Belakangan, menurut cerita Pak Juju, keharusan untuk memberikan pupuk kimia ke tanah pertanian makin bertambah banyak. 

Awalnya, hanya sedikit saja pupuk kimia yang diberikan ke tanah untuk sekali produksi, dari penanaman benih hingga memetik hasil. 

Sepuluh sampai dua puluh tahun kemudian ceritanya tidak sama. Petani di sini sadar bahwa tanah ladang mereka tidak sesubur tahun - tahun sebelumnya, karena ladang tidak cukup jika dipupuki sedikit atau sama dengan tahun - tahun sebelumnya.

Mereka pun tahu, walaupun mungkin belum semuanya yang tahu, bahwa penggunaan pupuk kimia secara terus menerus telah merusak tanah pertanian mereka.

Kebanyakan petani di dusun ini sudah menggarap lahan milik sendiri. Artinya mereka kebanyakan bekerja untuk diri sendiri. Dan secara logika hasil yang didapat, seharusnya, juga besar.

Mungkin, jika benar - benar dibandingkan, penghasilan yang didapat dari menggarap kebun milik sendiri dengan upah dari hasil bekerja di kebun milik orang lain, hasil (uang) yang didapat dari menggarap kebun sendiri memang lebih besar. Tapi. Seberapa besar. Tergantung.

Tergantung modal. Modalnya dari mana, besarnya berapa. Lalu tergantung penjualan. Setelah jadi atau panen, dijualnya ke mana. Dijualnya dalam bentuk apa.

Masalah pertanian berikutnya, seperti yang diuraikan dalam paragraf sebelumnya, modal dan penjualan.

Masalah berikutnya ini, saya mendengarnya langsung dari Pak Ica, tetangga pondokan mahasiswa juga, sering meng-imami kami,  kalau shalat berjamaah di mushallah dekat pondokan.

Pak Ica lebih pendek dariku. Beliau memiliki berat dan tinggi yang ideal, berat badan yang sepertinya seimbang dengan tinggi badannya. Tidak kurus, tidak juga gemuk. 

Pak Ica memiliki ladang di atas gunung. Usia beliau 34 tahunan. 

Percakapan waktu itu menghasilkan kesimpulan bahwa koperasi dan kelompok tani perlu diadakan di Dusun Suka Senang. 

Petani di sini, memiliki masalah kesulitan modal, tiga juta rupiah adalah angka yang aku dengar dari Pak Ica waktu itu. Jumlah tersebut adalah jumlah yang mampu Pak Ica usahakan untuk modal berkebun. Aku yang kurang paham apakah modal segitu cukup untuk sekali produksi (dari menanam benih sampai panen), atau tidak.

Apakah tergantung luas kebunnya, mungkin. Jika tidak terlalu besar, bisa jadi jumlah tersebut cukup, bahkan lebih dari cukup. 

Petani setempat kalau kekurangan modal ternyata bisa pinjam dari tengkorak, eh maksud saya tengkulak.

Namun sayang, di sini, jika petani terpaksa meminjam modal dari tengkulak, maka hasil panennya nanti wajib dijual ke tengkulak yang meminjamkan modal tadi.

Lah, bukannya kalau hasil panennya sudah ada pembeli pasti bukannya bagus? Iya, bagus, apalagi jika harga beli yang ditawarkan tengkulak tinggi atau minimal setara dengan harga di tempat lain.

Tengkulak mewajibkan penjualan hasil panen para petani yang meminjam modal darinya dijual kepadanya. Masalah harga terserah si tengkulak, ada proses diskusi--terkait harga jual beli hasil panen--tetapi biasanya petani tetap tidak bisa berbuat banyak. 

Masalah seperti ini bisa diatasi dengan adanya kelompok tani, koperasi pertanian dan bank khusus pertanian. 

Kelompok tani, khususnya di Dusun Suka Senang, belum ada. Lagi - lagi, menurut cerita dari warga nih, kelompok tani di Desa Cinta Asih dulunya ada, tetapi entah kenapa di tengah jalan kepengurusan kelompok tani hilang tanpa kabar.

Kelompok tani adalah organisasi pertanian yang salah satu fungsinya adalah menyalurkan bantuan - bantuan pemerintah, seperti pupuk subsidi, alat - alat pertanian. 

Kelompok tani bisa bermitra dengan perusahaan multi nasional yang lini bisnisnya biasanya bergerak di sektor makanan. 

Misal, sebuah desa, anggap desa X, sudah memiliki kelompok tani, dan produk utama pertanian desa tersebut adalah cabai dan tomat

Kelompok tani mendapat mitra dengan dibantu oleh pemerintah melalui dinas pertanian. Perusahaan, sebut saja perusahaan A, adalah produsen bumbu dapur siap saji seperti kecap, saus tomat, sambal tomat, sambal hijau, terasi, dan semuanya dijual dalam kemaran yang bagus.

Perusahaan A membutuhkan sumber pasokan tomat baru. Perusahaan ini ingin bermitra dengan kelompok tani Desa X yang merupakan Desa yang produk pertaniannya adalah cabai dan tomat.

Kemitraan bisa dijalin antara perusahaan A dan Desa X, jika dan hanya jika Desa X sudah memiliki kelompok tani. Melalui pemerintah, kelompok tani ini dihubungkan dengan perusahaan A, lalu terjadilah kesepakatan antara kedua belah pihak.

Jika hal ini terjadi, maka petani tidak perlu menjual hasil pertanian ke tengkulak. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan tengkulak. Keberadaan tengkulak sebenarnya "membantu" petani menjual hasil panen.

Tapi terkadang, harga beli yang ditawarkan tengkulak terlalu murah, dan petani tidak punya pilihan. 

Seorang tengkulak bukan orang pertama atau tangan pertama dalam jalur distribusi. Artinya, tengkulak hanya sebagai penghubung antara penjual akhir (pedagang pasar) dan petani.

Jika saja hasil pertanian ini bisa sampai langsung ke pasar tanpa perlu campur tangan tengkulak, harga beli hasil pertanian bisa lebih kompetitif.

Kelompok tani harus ada di sini.

Belum lagi selesai masalah pertanian. Aku dan salah satu teman sesama sub unit, Shandy, pernah ikut Pak Jun berkebun. 

Pagi itu adalah jadwal kebun tomat Pak Jun disirami obat pembasmi hama. Kami kesiangan, sehingga berangkat ke atas gunung berdua saja, Pak Jun sudah di kebun.

Kami sampai di kebun Pak Jun. Beliau sedang meramu obat pembasmi hama. Beberapa bungkus obat yang berbeda jenis dan fungsi dicampurkan satu persatu menggunakan sendok makan ke dalam ember berukuran 10 liter yang sudah diisi air, ember terisi penuh oleh air.

Setelah selesai memindahkan beberapa sendok makan obat - obat tadi ke ember, ramuan tersebut diaduk. Air berubah warna, mula - mula bening, beberapa saat cokelat, kemudian putih, warnanya sangat pekat.

Shandy merupakan mahasiswa ilmu tanah, Fakultas Pertanian. Kami sama - sama semester enam waktu itu.

Aku yang tidak tahu menahu tentang obat - obat pertanian diam saja melihat obat - obat dari berbagai bungkus itu dicampur.

Shandy yang paham tentang pertanian langsung bertanya ke Pak Jun. "Kok dicampur semua Pak, sampai pekat gitu", tanya Shandy. Aku masih diam saja, belum menyadari sesuatu.

Pak Jun menjawab dengan jelas. Sejelas kilauan sinar matahari yang mulai menyilaukan.
Obat tersebut adalah obat yang memiliki fungsi berbeda. Semuanya selalu dibawa Pak Jun ketika ulat - ulat mulai menggerogoti daun - daun tomat.

Pak Jun mendapati bahwa campuran ini adalah obat paling ampuh untuk membasmi hama - hama tanaman. Berkali - kali Pak Jun mencoba obat - obat tersebut, mulai dari satu jenis obat saja hingga dibuat menjadi larutan. Yang ini yang paling ampuh.

Obat tersebut panas, aku sempat mencelupkan beberapa centi jari tanganku ke ember sebelum larutan dimasukkan ke tangki aluminium, tangki penyemprot.

Shandy memberitahuku bahwa cara tersebut salah. Aku menyela sebelum ia sempat melanjutkan, "tapi paling ampuh tuh, gimana?".

Ia memutuskan untuk menjelaskan kepadaku kenapa hal tersebut salah. Dan pada akhirnya aku setuju, setelah paham kenapa.

Penggunaan zat kimia untuk pertanian memang tidak dapat dihindari, setidaknya untuk saat ini. 

Mengenalkan pupuk organik dan obat - obat alami untuk perkebunan adalah langkah awal yang harus dilakukan. Tanah yang perlahan - lahat tak akan lagi subur bisa diubah dengan mengurangi dan mengganti penggunaan pupuk kimia dengan pupuk organik sebagai gantinya.

Pupuk organik masih susah ditemui di Kecamatan Cisurupan. Kalaupun ada, harganya jauh lebih mahal dari pupuk kimia. Masih langka sih.

Ada alternatif untuk mengatasi masalah harga. Bikin saja pupuk organik sendiri. Memang harus repot.

Membuat pupuk organik sendiri masih memungkinkan, mulai dari mengumpulkan kotoran ternak, mengolah dan menunggu selama satu sampai dua minggu sampai pupuk jadi, bisa dilakukan oleh masing - masing petani.

Dengan membuat sendiri, biaya pengeluaran bisa ditekan. Tapi produksi pupuk organik ini tergantung bahan baku, tersedia atau tidak. 

Untuk kapur dan M4 mungkin tersedia setiap waktu dalam jumlah banyak. Tapi, untuk kotoran ternak, akan cukup sulit untuk didapatkan di Desa Cinta Asih.

Beberapa warga Desa Cinta Asih memiliki peternakan sapi dan kambing. 

Jumlahnya jika dibandingkan dengan luas lahan pertanian, masih jauh dari cukup, belum bisa memenuhi kebutuhan kotoran ternak sebagai bahan baku utama apabila mau diadakan program besar - besaran penggunaan pupuk organik.

Oleh karena itu, memberikan sosialisasi ke warga tentang pupuk organik, cara membuatnya, dan menyampaikan manfaat - manfaat penggunaan pupuk organik beserta keuntungan jangka panjang- nya terhadap kesuburan tanah, sudah cukup tepat.
•••••••••••••••••
Sebagai anggota tim yang tidak bergabung dari awal, yang tidak mengerti bagaimana perjuangan tim pengusul kami melakukan survey, meluangkan waktu untuk datang ke Desa Cinta Asih, di tengah - tengah aktivitas perkuliahan, aku salut bukan main kepada mereka (tim pengusul).

Dalam waktu yang singkat mampu melihat setumpuk masalah yang ada di desa ini. Serta mampu dan mau mencarikan jalan keluar masalah tersebut.

Dua jempol buat mereka. Toss!!!

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon