Wednesday, 28 October 2015

Cerita Kegagalan Usaha mahasiswa : Apa yang Salah?

Artikel ini ditulis dengan judul asli "Pelajaran Dari Kegagalan Usaha Warung Kakilima Kami, Bubur Ayam Papandayan"

Gairah untuk membuat sebuah usaha menyala - nyala dalam diri ratusan bahkan ribuan mahasiswa di Yogyakarta. Kami adalah segelintir orang yang termasuk di dalamnya, mahasiswa yang ingin mencoba berwirausaha.

Munculnya gejolak seperti ini tidak terlepas dari peran media yang selama lima tahun terakhir gencar membahas isu - isu terkait kewirausahaan. Provokasi yang paling mencolok yang disampaikan mereka jika diringkas akan menjadi kalimat ini : jadilah pencipta lapangan kerja, bukan pencari kerja.

Belakangan ini, wrausahawan dicitrakan sebagai profesi yang keren, mampu memberi kontribusi bagi banyak orang, seperti mengambil peran dalam perekonomian nasional, mandiri, menciptakan lapangan kerja, dll.

Ada poin yang kurang tepat di situ, wirausahawan itu ada yang sukses dan ada juga yang belum sukses. Alangkah baiknya jika beritanya diubah menjadi seperti ini : menjadi wirausahawan sukses adalah sesuatu yang hebat atau keren, mampu menciptakan lapangan kerja, berkontribusi besar bagi perekonomian nasional  bla bla bla bla bla bla.

Kata sukses tersebut sebaiknya disematkan di belakang kata wirausahawan, tujuannya supaya orang ingat bahwa wirausaha itu harus punya mental yang kuat, banyak kegagalan yang dialami sebelum berhasil.

"Habiskan jatah gagal Anda di usia muda" - Dahlan Iskan

Begitulah bunyi quote yang pernah disampaikan oleh Pak Dahlan. Masa muda memang waktu yang tepat untuk mencoba berbagai tantangan--tentu yang saya maksud di sini adalah tantangan positif--karena jika usaha yang kita lakukan suatu hari menghadapi kegagalan, kita masih memiliki banyak waktu untuk memperbaiki kesalahan - kesalahan yang dibuat sebelumnya.

Gagal itu sakit, betul - betul sakit. Oleh karenanya, jika Anda ingin menjadi orang yang berani gagal atau ingin menjadi orang yang kuat menghadapi kegagalan, maka biasakanlah gagal, jangan takut salah. Lebih tepatnya Anda jangan takut mencoba. Mencoba >> salah >> benahi.

Itulah kira - kira pola pemikiran saya sebelum menjalankan usaha yang saya dirikan bersama dua orang teman baik saya. Semangat saya berkobar - kobar dengan slogan berani gagal, berani mengambil resiko, dll. Kisahnya akan saya ceritakan dalam tulisan ini.

"Gagal itu sakit, tapi ketidakberanian mencoba adalah sebuah penyesalan" - Arfi Ardian

Bubur Ayam Papandayan, itulah nama usaha yang kami dirikan sejak Desember 2014. Sebuah usaha yang dibuat dan ditutup dengan cepat.

Usaha tersebut diprakarsai oleh salah satu teman. Ide usaha ini muncul dari pengamatan yang dilakukan oleh teman tersebut. Di sebuah kota metropolitan, anggap saja Jakarta. Di sana, ada sebuah warung bubur ayam yang ramenya ga pernah sepi. Kebayang ga maksudnya apa?

Salah satu warung bubur ayam di sana selalu ramai pengunjung. Jarang sekali sepi, padahal harganya di atas lima belas ribuan. Begitulah teman saya menyampaikan latar belakang usaha yang akan kami buat di kemudian hari.

Menanggapi informasi tersebut, saya kemudian bertanya, kalau kita mau buat, itu nanti bukanya kapan, dari jam berapa sampai jam berapa? Pertanyaan ini saya ajukan terkait aktivitas kuliah yang masih harus saya lakukan.

Malam. Balas teman saya. Emh, ok. Tapi apakah bakal laku? Bukannya orang - orang terbiasa makan bubur ayam itu pagi? / Bisa, mudah - mudahan bisa, yang kita tiru ini bukanya malam fi, dan laris banget.

Akhirnya, tanpa berpikir panjang, saya sepakat untuk bekerja sama mendirikan usaha tersebut. Seiring berjalannya waktu, di tengah - tengah pencarian lapak untuk lokasi jualan, kami mencari satu orang lagi untuk diajak bekerja sama. Didapatlah satu orang lagi.

Awalnya, belum kepikiran untuk menjalankan usaha tersebut bertiga, tapi teman saya yang pertama menyampaikan bahwa sebaiknya jangan berdua, alasannya, ketika mengambil keputusan, lalu hasil yang didapat bertentangan satu sama lain, maka tidak ada jalan keluar yang didapat.

Berbeda halnya jika usaha dilakukan oleh tiga orang atau lebih. Jika bertiga, misalnya, waktu voting untuk sebuah keputusan bisa menghasilkan angka setidaknya 2-1, bukan 1-1 seperti jika usaha hanya dilakukan berdua, lalu saat keputusan bertentangan malah tidak ada jalan keluar.

Lalu, karena masuk akal, saya setuju dengan usulan tersebut, selain meringankan jumlah modal yang harus kami keluarkan dari kantong masing - masing, juga berguna saat mengambil keputusan - keputusan tertentu.

Teman yang terakhir sepakat bergabung karena ia juga tahu dengan warung bubur ayam yang akan kami tiru midel usaha dan produknya tersebut. Ia juga suka makan di sana. Bahkan, ia menambahi dengan cerita bahwa kalau ia makan di sana, mesti makannya di mobil karena warungnya selalu penuh, sehingga tidak kebagian tempat.

Bagian - bagian yang Salah
Berwirausaha memang tak selalu mulus, pasti ada saja hambatan yang datang. Namun, seorang wirausahawan harus menyadari bahwa kesalahan atau resiko itu muncul karena kurangnya pengetahuan yang mereka miliki tentang apa yang sedang mereka lakukan. Lalu, apa saja kesalahan - kesalahan yang sempat kami lakukan dalam perjalanan mendirikan usaha bubur ayam ini?

Choose Your Target First, PLEASE!
Pemilihan target pasar adalah kegiatan sederhana yang tidak bisa disepelekan. Kegiatan ini penting untuk keberlangsungan usaha selama minggu - minggu awal hingga bertahun - tahun ke depan. Sebelum memproduksi sebuah produk, pikirkan dulu ke mana produk tersebut akan dijual, ke pada siapa, berapa usia mereka, berapa penghasilan mereka, target pasar Anda. Jika hal ini sudah ditentukan, barulah membuat produk.

Dalam perjalanannya, usaha kami, hingga bulan - bulan terakhir berjalan belum memiliki target pasar yang jelas. Kami berjualan di kawasan yang banyak mahasiswa, namun kami menjual produk kami dengan harga yang tinggi.

Harga tersebut didapat karena menyesuaikan dengan produk yang kami buat. Sebelum warung yang kami dirikan ini dibuka, kami mencari resep yang pas dulu untuk produk yang kami jual. Lalu, pada akhirnya, resep yang paling enak ketemu, terkait rasa dan kenyang atau tidak telah menjadi fokus kami selama mencari resep.

Dari temuan resep tersebutlah yang mengharuskan harganya berada di kisaran tigabelas ribu rupiah. Cukup mahal untuk bubur ayam apalagi di area jogja. Saat itu, saya yakin bahwa kami bisa membuat orang lain suka dengan produk kami. Bukan memenuhi permintaan pasar yang sudah ada.

Saat itu saya membandingkannya dengan produk dunkin donut, J.Co, dan lain sebagainya yang harganya tidak diturunkan meskipun lokasi store nya di jogja. Harganya tetap sama saja dengan harga di kota - kota lain, dan brand - brand tersebut tetap ada di Jogja sampai hari ini. Masak iya, kita tidak berani menjual dengan harga yang sama dengan kota asal bubur ayam yang akan kita jual. Begitulah saya berargumen dengan dua partner saya waktu itu.

Hal itu baru saya sadari belakangan ini bahwa saya telah melakukan kesalahan di awal, bahkan sebelum mulai melalui argumen saya tersebut. Tapi sebenarnya bisa diperbaiki dengan membuat variasi porsi. Porsi mini, separuh harga dari menu original yang sudah ada sejak awal, menjadi pilihan jika memang usaha yang kami jalankan ini ingin diteruskan.

Anda harus jelas dalam mendefinisikan target pasar produk yang Anda jual. Hal ini berkaitan dengan harga jual ke end user atau konsumen individu. Jangan sampai melakukan kesalahan seperti yang telah kami lakukan.

Baca juga pelajaran serupa tentang pentingnya membaca pasar di artikel ini : Coffee Toffee - Sempat Gagal Karena Meremehkan Budaya Lokal

Ingat, wirausahawan memang harus berani gagal, tapi bukan berarti seorang wirausahawan itu saking berani gagalnya sampai - sampai bertindak ceroboh. Tidak mau bertanya tidak mau membaca referensi - referensi yang berkaitan dengan usaha yang dijalankan. Tidak mau mempelajari pendahulu - pendahulu yang pernah gagal.

Pilihlah target pasar dari produk yang akan Anda jual. Dalam kasus bubur ayam papandayan, sebenarnya target pasar yang kami tentukan dari awal adalah orang - orang yang kerja, karyawan, atau mahasiswa kelas menengah atas yang memiliki uang saku lebih.

Tapi, kami melupakan bahwa kami berjualan di lokasi yang sedikit sekali jumlah karyawan yang jajan di luar. Beda dengan Jakarta yang memang banyak jumlah orang kerja yang memilih untuk makan di luar sebelum pulang ke rumah. Hal ini terkait dengan jalanan di Jakarta yang macet hingga ke mana - mana, sehingga, makan di luar sebelum balik ke rumah adalah pilihan.

Akhirnya saya menyadari bahwa saya salah telak dalam argumentasi tersebut. Tidak apa, hehe.

Start Big is Stupid

Dream big and Start Small, bukan Dream Big and Start Big. Bermimpilah sebesar - besarnya, tapi mulailah dengan yang kecil. Hal ini dikarenakan dunia startup bukanlah dunia game.

Dalam dunia game, mungkin kita bisa melompat ke level 3, level 6 atau level 10 ketika baru mulai memainkan game tersebut. Dan dunia game tetaplah dunia game, jika gagal dampaknya tidak ada, bahkan kita bisa mengulang dari awal permainan sesuka hati.

Dunia startup bukanlah dunia main - main. Anda sebaiknya serius dalam menjalankan usaha yang akan Anda mulai atau yang baru saja Anda jalankan. Untuk itu mulailah dari yang kecil.

Tapi, jangan lupa juga bahwa besar kecil itu relatif. Iya, relatif, tergantung isi kantong Anda. Jika isi kantong Anda banyak, misal Anda punya 900 juta, maka uang sejumlah 40 sampai 50 juta adalah jumlah yang kecil. Di Jogja Anda sudah bisa memiliki sebuah burjo (warung tegal) dengan uang sebanyak itu.

Nah, jika modal Anda cuma 7 - 10 juta, buatlah usaha yang bisa dikerjakan sendiri atau maksimal memerlukan satu orang karyawan. Terutama jika usaha tersebut terkait dengan usaha makanan, lebih baik mulai dari jualan sendiri dulu.

Pernahkah Anda menonton film Tao Kae Noi aka Billionaire yang mengisahkan tentang perjalanan Top Ittipat dalam membesarkan usaha snack rumput lautnya? Dalam film tersebut banyak sekali pelajaran bisnis yang bisa kita petik, salah satunya bagaimana Top memulai usahanya dari skala kecil.

Dalam film tersebut diceritakan bahwa Top memulai usaha rumput lautnya dengan membuka sebuah booth di sebuah pusat perbelanjaan. Booth tersebut dijaga oleh Top dan pamannya sendiri, tanpa satu karyawan pun.

Begitu juga saat membeli bahan baku, lalu saat memproduksinya, semua dilakukannya bersama pamannya.

Start small and dream big bertujuan untuk meminimalisir resiko yang kemungkinan akan menimpa si empunya bisnis jiga sebuah masalah terjadi. Memulai bisnis dengan skala kecil juga berarti menghemat biaya, terutama biaya operasional seperti biaya gaji karyawan.

Semakin kecil skala bisnis, maka manajemen resikonya semakin sederhana. Seorang wirausahawan harus sadar bahwa ketika memulai bisnis berarti seorang wirausahawan juga belajar bagaimana memanage usaha itu sendiri, mulai dari ngatur logistik bahan bagu, bagai mana sop produksi, bagaimana suplai barang ke konsumen, apakah dijual langsung dari produsen ke konsumen, ataukah melalui distributor. Coba bayangkan jika seseorang yang belum berpengalaman disuruh memegang sebuah bisnis yang besar? Bisa dipastikan orang tadi kewalahan mengurus usaha tersebut. Untuk itu, memulai dari skala kecil adalah sebuah pilihan yang bijaksana.

Dalam kasus bubur ayam papandayan, kami juga memulai usaha tersebut dengan melompati level yang seharusnya. Kesimpulan ini ditarik dari situasi yang usaha kami alami, yaitu bagaimana budget yang harus kami keluarkan dengan budget yang saat itu kami miliki.

Dengan kata lain usaha ini, dari sisi keuangan memerlukan aliran uang ekstra. Ibarat kata sebelum memulai usaha sepuluh juta itu dikira cukup, ternyata ketika dijalankan ada pengeluaran - pengeluaran lain yang harus dibiayai. Saat itu kita mikirnya nekat saja, pokoknya harus jalan, titik. Ya sudah, akhirnya bisnisnya alhamdulillah benar - benar jalan walaupun cuma beberapa bulan.

Pengeluaran ekstra tersebut diantaranya adalah biaya marketing (endorsement media sosial atau iklan di media sosial), perawatan perlengkapan usaha, dan gaji karyawan. Yang paling banyak memakan biaya adalah biaya untuk membayar gaji karyawan.

Kejadian ini tidak lepas dari akibat perencanaan awal yang kurang matang, saat di awal - awal itu kami mengira bahwa usaha ini bisa dijalankan oleh kami bertiga saja tanpa perlu merekrut karyawan. Ternyata pada saat pertama kali buka kami kewalahan jika hanya bertiga saja.

Penyebabnya karena kami tidak tahu seberapa repot memasak bubur ayam, yang mengharuskan kami menghire seseorang khusus untuk masak. Waktu survey kecil - kecilan di awal, kami sudah bertanya kepada beberapa penjual bubur ayam gimana cara masak bubur ayam dan masakan lainnya, lalu durasi masak bubur ayam tersebut berapa lama. Dari situlah kami menganggap bahwa kami bisa mengerjakan usaha ini tanpa karyawan, pada awalnya.

Dalam perjalanan, situasi berkata lain, kesibukan kuliah memaksa kami untuk mencari orang supaya usaha ini tetap jalan. Pasalnya, usaha kaki lima itu butuh orang yang urus - urus masalah gerobak dan tenda, mulai dari membawa gerobak dari stasiun penitipan gerobak sampai ke lapak, hingga memasang dan membongkarnya.

Belum lagi masih ada yang namanya ke pasar untuk beli bahan untuk membuat bubur ayam dan isinya. Lalu, masih ada masak, memotong ayam, dan menggoreng emping.

Ceritanya, usaha baru ini sudah berisi tiga orang yang harus dibayar setiap bulannya. Yang namanya usaha baru, orang belum banyak yang tahu, ga mungkin kan orang se Jogja langsung tahu di jalan kaliurang mulai hari ini ada bubur ayam paling enak se - Jogja.

Karena baru, dan orang belum tahu, maka jumlah penjualan per hari masih sedikit. Untuk membayar gaji seluruh tim kami, kami harus menjual setidaknya duapuluh mangkuk bubur ayam per harinya.

Di sinilah letak masalah berasal, kami belum dikenal, memiliki modal pas - pasan karena masih mahasiswa semua, tapi harus membayar gaji karyawan dengan usaha yang kami jalankan. Usaha ini hanya mampu melepas rata - rata empat belas hingga tujuh belas mangkuk bubur ayam per harinya.

Karena dari awal sampai akhir jualan target penjualan minimal perhari belum terpenuhi, maka saya mengajukan pemberhetian usaha yang dijalankan dengan membetikan beberapa opsi. Salah satu dari opsi tersebut adalah, brand bubur ayam papandayan jika ingin tetap ada, maka harus dibuat dengan skala kecil  yang kira - kira hanya membutuhkan satu orang untuk jualan setiap hari, seperti bubut ayam gerobakan lainnya.

Opsi lainnya, tetap menggunakan lapak ini, tapi ganti usaha lain, jual komoditas lain dengan nama lain. Yang terakhir adalah benar - benar stop, dan melakukan oper kontrak. Dan opsi terakhir akhirnya dipilih, dengan alasan bahwa budget saya pribadi tidak cukup untuk meneruskan perjuangan ini karena masih mahasiswa. Hehehe.

Arfi Ardian

Artikel Terkait

1 komentar so far

FBS IndonesiaBroker Terbaik – Dapatkan Banyak Kelebihan Trading Bersama FBS,bergabung sekarang juga dengan kami
trading forex fbsindonesia.co.id
-----------------
Kelebihan Broker Forex FBS
1. FBS MEMBERIKAN BONUS DEPOSIT HINGGA 100% SETIAP DEPOSIT ANDA
2. SPREAD DIMULAI DARI 0 Dan
3. DEPOSIT DAN PENARIKAN DANA MELALUI BANK LOKAL Indonesia dan banyak lagi yang lainya

Buka akun anda di fbsindonesia.co.id
-----------------
Jika membutuhkan bantuan hubungi kami melalui :
Tlp : 085364558922
BBM : FBSID007


EmoticonEmoticon