Monday, 19 October 2015

Belajar mengenai arti dari nilai melalui analogi dua jenis handphone

Handphone saat ini sudah bukan lagi barang mewah, hampir semua kalangan sekarang bisa memilikinya. Pasalnya benda yang satu ini memiliki manfaat yang luar biasa untuk menghubungkan manusia dari pulau ke pulau lainnya dengan mudah, Kita hanya perlu sentuhan ujung - ujung ibu jari untuk mengoperasikannya.

Dalam satu dekade (baca. Sepuluh tahun) handphone telah berkembang sangat pesat. Teknologi - teknologi terbaru ditambahkan ke dalamnya. Layar, grafis, bahan, ukuran processor (semakin ramping), dan masih banyak lagi--semua berkembang dengan cepat dalam sepuluh tahun.

Eits, tunggu dulu, sebenernya bukan itu--bukan sejarah perkembangan handphone--yang akan diulas di artikel ini. Ini juga bukan review handset setelah boxnya dibuka, karena keduanya berbeda level. Sesuai judul, melalui tulisan ini kita memang akan belajar dari dua jenis handphone tersebut, tetapi yang akan kita ambil untuk dipelajaran adalah tentang value (nilai) dan price (harga).

Nokia Lumia 535 vs Nokia 1100
Contoh yang tidak terlalu ekstrim untuk dibandingkan dengan handphone dengan fungsi alakadarnya seperti nokia 1100. Pasalnya masih banyak handphone dengan kemampuan yang lebih baik dari Lumia 535 sendiri.

Kenapa Keduanya dihargai Berbeda?
Dua jenis ponsel tersebut dihargai berbeda karena memiliki jumlah fitur yang jauh bebeda. Yang satunya bisa kamera--depan belakang lagi--yang satunya tidak memilili kamera, yang satunya bisa putar mp3 dan video, satunya lagi cuma bisa radio.

Nilai dan harga adalah dua hal yang saling berkaitan, harga selalu ditentukan oleh nilai yang diberikan meski harga tak selamanya atau malah tidak bisa sama sekali menentukan nilai sebuah benda. Nilai suatu benda tidak bisa semata - mata bertambah hanya karena harganya dinaikkan.

Sebenarnya, tanpa penjabaran lebih jauh saya yakin teman - teman sudah paham apa yang ingin saya sampaikan. Tapi saya harap teman - teman tetap melanjutkan membaca agar mendapatkan manfaat dari tulisan ini secara menyeluruh.

Ingat : Ternyata Aturan Ini Berlaku Sama pada Manusia

Apa alasan yang membuat beberapa orang dibayar lebih tinggi sedang yang lainnya dibayar pas? Penghargaan terhadap loyalitas? Bisa jadi, tetapi saat ini sudah banyak contoh yang menunjukkan bahwa yang baru beberapa tahun masuk pun bisa menanjak ke posisi yang lebih tinggi dengan lebih cepat.

Mereka yang dibayar lebih tinggi adalah orang - orang yang mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar dari yang diminta perusahaan terhadapnya. Setuju?

Sama seperti handphone yang diberi harga lebih tinggi karena bisa memberikan kemudahan--banyak fungsi tersemat ke dalam satu benda. Kamera, mp3, video player, tape recorder, bahkan console game bisa dijadikan satu dalam sebuah perangkat smartphone, karena itulah makanya harganya jadi lebih mahal dibanding sebuah handphone dengan kemampuan telepon, sms dan radio saja--apalagi kalau layarnya hitam putih pasti harganya lebih murah lagi.

Manusiapun demikian, saya yakin orang - orang dengan bayaran tinggi dalam sebuah perusahaan adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menambah nilai yang lebih kepada perusahaan tempat ia bekerja. Misalnya dengan adanya ia di perusahaan tersebut membuat perusahaannya mendapatkan profit berkali - kali lipat, relasi business to business perusahaannya terpelihara dengan baik karena kemampuan PRnya, selain itu ketika ia diberi tugas tertentu ia selalu melakukan lebih. Ibaratnya jika perusahaan memintanya untuk memperbaiki posisi cabang perusahaan yang ia pimpin untuk menjadi lebih baik hasil auditnya maka karena ia yang menangani akhirnya cabang tersebut dibuatnya menjadi cabang dengan hasil audit terbaik di seluruh negeri padahal atasannya hanya memintanya untuk memperbaiki posisi cabang perusahaan yang dipimpinnya agar tidak menjadi peringkat terakhir terus menerus.

Orang - orang yang memberikan nilai lebih ini pasti dijaga baik - baik oleh perusahaan tempat dimana ia bekerja, agar karyawan tersebut tidak dibajak(direkrut) oleh kompetitor atau perusahaan lain, dana yang besar--untuk membayar upah mereka--pun sepertinya bukan sebuah masalah jika memang harus dikeluarkan agar karyawan tersebut tidak pindah perusahaan.

Siapa yang saat ini rela membayar 1.7 juta rupiah untuk sebuah nokia 1100? Sepertinya tidak akan ada yang mau membeli nokia 1100 tersebut dengan harga setinggi itu (di 2015). Begitu juga sebuah perusahaan, tidak akan ada perusahaan yang mau membayar tinggi upah seorang tenaga kerja yang hanya memberikan value seadanya--atau yang hanya sekadar mencapai target yang diminta. Kita harus memberi lebih banyak, mencetak nilai lebih banyak.

Artikel Terkait

1 komentar so far

This comment has been removed by a blog administrator.


EmoticonEmoticon