Thursday, 8 October 2015

Depresiasi rupiah membuat spekulan selisih kurs merugi

Turunnya nilai tukar rupiah terhadap dollar yang terjadi selama beberapa bulan belakangan ini dilatarbelakangi oleh "rencana" The Fed, bank sentral Amerika Serikat, menaikkan suku bunga di negara adidaya itu. Rencana tinggal rencana apabila gagal dilaksanakan.

Rencana The Fed menaikkan suku bunga ini ditangguhkan karena angka serapan tenaga kerja yang belum terpenuhi dari target yang diharapkan. 

Artinya, pengurangan jumlah pengangguran di Amerika masih membuat waswas Amerika Serikat sendiri, dengan kata lain Amerika belum siap untuk menghadapi inflasi yang akan terjadi setelah suku bunga dinaikkan. 

Karena masih banyaknya jumlah pengangguran itulah akhirnya suku bunga acuan Amerika Serikat urung dinaikkan.

Catatan :
menaikkan suku bunga = menimbulkan inflasi

Amerika harus yakin bahwa daya beli masyarakatnya akan tetap kuat ketika harga - harga naik. Salah satu ciri siap atau tidaknya suatu negara menghadapi inflasi adalah jumlah penganggurannya. 

Jika pengangguran masih banyak, kemungkinan besar daya beli masyarakat akan turun karena masyarakat tidak memiliki uang untuk membeli.

The Fed atau Federal Reserve diketahui "berencana" menaikkan suku bunga sebelum 2016. Namun apa daya jika jumlah pengangguran ternyata masih cukup tinggi, membuat mereka tak kuasa untuk menaikkan suku bunga melalui kebijakan moneter bank sentral dan cenderung menahannya.
Di saat - saat seperti inilah kita bisa melihat nilai sesungguhnya mata uang negara kita. Beberapa bulan terakhir memang didapati bahwa ekonomi Amerika lah yang melaju dengan gagah, tidak ada masalah di dalam negeri yang membuat rupiah melemah, karena mata uang negara lain juga melemah terhadap dollar Amerika Serikat.

Spekulasi tentang naiknya suku bunga Amerika Serikat akhirnya terhenti untuk sementara. Dan, hal ini ternyata menampakkan nilai asli rupiah. Penilaian yang terlalu rendah ini disebut depresiasi. Penilaian yang tinggi disebut apresiasi.

Rupiah mengalami depresiasi setengah tahun belakangan. Angka perubahan kurs terus mengarah ke lima belas ribu rupiah, namun peristiwa ini tidak diikuti oleh turunnya daya beli masyarakat secara signifikan. 

Secara keseluruhan, masyarakat masih mampu menjangkau kenaikan harga - harga akibat inflasi yang terjadi belakangan. 

Di sini sebenarnya kita bisa melihat posisi rupiah yang sebenarnya, yaitu di daya beli masyarakat kita. Rupiah masih baik - baik saja. Alhamdulillah.

Tentu sebagian masyarakat Indonesia senang melihat mata uang rupiah menguat terhadap dollar Amerika, tapi tahukah Anda bahwa ada sebagian orang lainnya yang merasa was - was saat kurs rupiah menguat terhadap dollar? 

Ada loh, mereka adalah spekulan kurs, yaitu orang yang membeli dollar dan mengharapkan mendapatkan keuntungan ketika kurs dollar menguat terhadap rupiah. 

Yang was - was adalah mereka yang membeli dollar satu minggu sebelum kurs rupiah menguat, atau ketika selisih penurunan kurs rupiah sedang berada di posisi terendah dalam satu tahun belakangan yaitu di kisaran Rp14.500 per US$1.

Jika Anda berniat membeli dolar, mungkin beberapa minggu ke depan adalah saat yang tepat karena kemungkinan rupiah akan terus menguat. 

Karena harga dollar yang lebih murah jika rupiah menguat. Namun, bagi yang sudah membeli dollar minggu lalu, sebaiknya Anda menahannya saja, jangan dijual saat seperti ini. 

Karena Anda jelas akan merugi jika menjualnya ketika harganya turun. Masih ada loh kemungkinan bahwa rupiah akan turun lagi akibat terpengaruh oleh spekulasi terkait rencana naiknya suku bunga di Amerika Serikat. 

Jadi, jika sudah terlanjur membeli di harga terendah, tunggu saja sampai harganya setara atau lebih supaya Anda tidak rugi.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon