Wednesday, 7 October 2015

Hubungan devaluasi mata uang terhadap ekspor impor

Saat ini resesi masih berlangsung, tak jarang, peristiwa ekonomi global ini menjadi bahan perbincangan di tengah aktivitas sehari - hari, entah itu saat sedang kerja, berbelanja di mall atau saat main gaple. 

Lumayan, untuk penulis sendiri, jadi ada diskusi berbobot juga di tengah - tengah nongkrong di kost. Bahasannya mengacu ke naiknya nilai dolar terhadap ekonomi Indonesia, kok bisa sih cuma dollar yang membuat Indonesia kelimpungan kalau sedang menguat, kok Dollar Singapura atau Ringgit Malaysia tidak membuat gaduh kalau nilainya sedang naik atau turun. 

Kadang juga membahas Tiongkok yang out of the box sendirian. Mungkin bukan negara tirai bambu sendiri yang melakukan ini, ada beberapa negara lainnya juga yang melakukan hal yang sama. 

Tapi, berhubung Tiongkok adalah negara yang sedang diperhitungkan saat ini (karena perkembangan negaranya yang pesat), sehingga devaluasi tersebut menjadi perhatian negara - negara lain termasuk Amerika.

Dollar cenderung menguat, kok ya ada negara yang dengan sengaja menurunkan nilai mata uangnya (yaitu China), sedangkan yang lainnya sedang berusaha mempertahankan posisi (nilai) mata uangnya terhadap dollar, kenapa seeh. Manuver pemerintah China tersebut telah membuat AADC (Ada Apa Dengan China) menjadi topik bahasan di mana - mana.

Sebelum membahas lebih jauh tentang hubungan antara devaluasi mata uang dengan ekspor impor, ada baiknya jika kita mengetahui arti dari devaluasi mata uang itu sendiri.

Apakah Devaluasi Mata Uang itu?

Devaluasi mata uang adalah penyesuaian nilai mata uang terhadap nilai mata uang negara lain. Hal ini berarti men-devaluasi adalah menaikan atau menurunkan nilai mata uang suatu negara.
Lebih lengkap tentang devaluasi mata uang, baca di sini.

AADC (Ada Apa Dengan China)?

Cina sebagai negara dengan penduduk terbanyak telah menjadi salah satu poros perekonomian dunia. Dunia mereka sendiri. Bisa. Dunia dalam arti sesungguhnya. Bisa.

Ekonomi Tiongkok masih bisa berjalan tanpa adanya bauran dengan komoditas dari luar ataupun tanpa konsumen dari luar. Negara ini telah memiliki ratusan juta penduduk yang bisa menjadi pembeli produk dalam negerinya sendiri. Tanpa konsumen dari luar Tiongkok, mereka tetap bisa berjalan kuat.

Penurunan nilai mata uang (Yuan) dilakukan oleh Tiongkok bertujuan untuk meningkatkan kembali nilai ekspor mereka. Pada tiga bulan awal 2015 lalu, tercatat bahwa ekspor negara ini anjlok 15% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2014 lalu. 

Jika nilai Yuan turun terhadap USD, maka otomatis nilai ekspor Tiongkok yang dicatat dalam mata uang USD akan naik.

Semisal, harga jersey sepakbola KW grade ori China diekspor ke Indonesia dengan kesepakatan 1 kaos harganya 2USD. 

Semisal kurs saat itu adalah 1 USD = 2 Yuan, berarti untuk 100ribu pcs jersey China mendapatkan 100ribu USD. Jika China bisa ekspor jersey sepakbola 100ribu pcs per bulan, berarti selama tiga bulan mereka bisa mendapatkan 300ribu USD. 

Namun, setiap bulannya kurs dari yuan ke dollar mengalami perubahan. Dengan demikian nilai (pendapatan) yang akan didapatkan oleh Tiongkok akan berbeda pula.

Hitung - hitungan dari sisi eksportir (pengekspor)

Bulan 1.
Kurs 1 USD = 2 Yuan
Income >> 100ribu jersey * 1 USD = $100.000
Konversi ke Yuan >> $100.000 = 200.000 Yuan

Bulan 2.
Kurs 1 USD = 3 Yuan
Income >> 100ribu jersey * 1 USD = $100.000
Konversi ke Yuan >> $100.000 = 300.000 Yuan

Bulan 3.
1 USD = 5 Yuan
Income >> 100ribu jersey * 1 USD = $100.000
Konversi ke Yuan >> $100.000 = 500.000 Yuan
Dengan penurunan nilai mata uang ini, tentu Tiongkok diuntungkan dari pendapatan ekspor yang transaksinya disepakati menggunakan mata uang dollar.

Hitung - hitungan dari sisi importir (pengimpor)

Bulan 1.
Kurs 1 USD = Rp10.000
Bayar >> 100ribu jersey * 1 USD = $100.000
Konversi ke Rupiah >> $100.000 = Rp1.000.000.000

Bulan 2.
Kurs 1 USD = Rp12.500
Bayar >> 100ribu jersey * 1 USD = $100.000
Konversi ke Rupiah >> $100.000 = Rp1.250.000.000

Bulan 3.
1 USD = Rp14.000
Bayar >> 100ribu jersey * 1 USD = $100.000
Konversi ke Rupiah >> $100.000 = Rp1.400.000.000

Dari sisi importir penurunan nilai mata uang tentu akan memberatkan mereka, karena mereka harus mengeluarkan biaya lebih besar ketika membeli barang yang sama, jika dan hanya jika perjanjian ekspor impor tersebut disepakati menggunakan dollar sebagai mata uang transaksi.

Namun, pemerintah sebuah negara terkadang memang sengaja melakukan devaluasi dengan tujuan untuk meningkatkan gairah ekspor dan menekan ekspor. Ingat bahwa ekspor berarti menjual, sedangkan impor berarti membeli. Dan setiap negara seharusnya lebih banyak menjual daripada membeli supaya negara yang bersangkutan mendapatkan untung.

Latar belakang pemerintah Tiongkok menurunkan nilai mata uang Yuan Ketika itu, Juni – Juli 2015 indeks Shanghai Stock Exchange (SSE) tiba-tiba saja turun hingga total 30% hanya dalam tempo sebulan, Pemerintah Tiongkok bersama-sama dengan PBOC (the People Bank of China) segera mengumumkan beberapa kebijakan untuk memulihkan kembali pasar saham disana. 

Dari situ, salah satu kebijakan yang dihasilkan adalah menurunkan nilai tukar Yuan terhadap USD, untuk tujuan meningkatkan ekspor dan mendorong pertumbuhan ekonomi, dan pada akhirnya mendorong SSE untuk kembali naik.

Ada dua tujuan dari penurunan nilai mata uang Yuan yang disebutkan di atas, yaitu meningkatkan ekspor dan mendorong pertumbuhan ekonomi. 

Untuk kali ini penulis hanya membahas bagaimana devaluasi mata uang bisa mempengaruhi ekspor dan impor sebuah negara, untuk bahasan mengenai hubungan devaluasi mata uang dengan pertumbuhan ekonomi akan dibahas pada tulisan berikutnya.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon