Saturday, 17 October 2015

The Martian : Bertahan hidup 1.5 tahun di Mars seorang diri

  The Martian : Bertahan hidup di Mars
The Martian : Bertahan hidup di Mars
Sebuah misi dari keberangkatan Ares 3 harus selesai lebih cepat karena badai yang terjadi di hari ke 17 (Sol 17) tim Ares 3 berada di Mars. Badai sengit tersebut memaksa sang komandan regu untuk mengambil keputusan dengan pertimbangan keselamatan seluruh awak.

Badai muncul dari kejauhan ketika grup berada di luar camp, kekuatan badai yang mencapai 8.400 Newton memaksa supaya misi para astronot NASA ini diakhiri. Pasalnya, pesawat ulang alik (roket) yang akan mereka gunakan untuk kembali ke bumi hanya mampu menahan gaya normal sebesar 7.500 Newton. Posisi pesawat tersebut tegak ke atas, persis 90 derajat terhadap permukaan Mars.

Baru dari bagian (scene) ini, film telah berhasil menggambarkan bahwa seorang astronot yang berangkat ke luar angkasa harus cerdas, mengerti banyak hal, mulai dari ilmu mekanika, astronautika, botanical sampai cara survive jika terjadi hal yang tidak diinginkan dalam satu kali perjalanan misi. Seolah menunjukkan bahwa bukan hal yang mudah untuk menjadi seorang astronot luar angkasa.

Semua awak diperintah untuk segera masuk ke pesawat, sang komandan sudah yakin betul, bahwa keputusan yang paling tepat adalah meninggalkan Mars saat itu juga. Karena, jika membiarkan pesawat yang akan mereka gunakan untuk kembali ke bulan rusak, jatuh karena dihantam badai, maka keselamatan mereka semua akan terancam. Mereka tidak akan bisa kembali ke bumi. Lalu, mereka akan mati seiring dengan berlalunya waktu, karena lambat laun stok makanan mereka di camp akan habis.

Satu persatu awak mulai masuk ke pesawat canggih Nasa yang posisinya tegak, vertikal, 90 derajat terhadap permukaan tanah Mars. Beberapa awak yang telah masuk menyaksikan dari layar monitor pesawat bahwa posisi aktual pesawat sudah miring sekian derajat tdari posisi yang seharusnya.

Badai terlalu kencang, berbagai peralatan di luar camp, seperti antena, satelit pemancar, panel surya, dan beberapa benda lain beterbangan, bercampur dengan kerikil - kerikil tanah Mars yang melayang oleh badai. Kondisi yang terlalu gelap mempersulit semua awak mencapai pintu pesawat. Sayang, satu di antara tujuh awak tersebut hilang karena dihantam oleh sebuah antena besar yang terpasang di luar camp.

Sang kapten sengaja masuk pesawat belakangan, dia ingin menemukan satu anggota regu yang baru saja tersapu badai, tentu saja tidak mudah mengambil keputusan untuk meninggalkan satu orang sendirian di tempat yang sangat jauh dari bumi seperti Mars. Namun, demi keselamatan enam orang lainnya, segera meninggalkan mars adalah sebuah keharusan. Meskipun terlihat galau, sang kapten tetap tegas dalam mengambil keputusan. Akhirnya pesawat itu pun lepas landas meninggalkan Mars dan seorang anggota regu dari Ares 3.


Setelah berhasil keluar dari atmosfer Mars, tim menyampaikan kabar ke kantor pusat NASA bahwa mereka meninggalkan MARS lebih cepat dari jadwal seharusnya. "Satu awak tewas ketika berusaha masuk ke pesawat. Tersapu badai." Begitu juga pesan lanjutan yang disampaikan dari pesawat luar angkasa Ares 3 ke NASA.

Konferensi pers dilakukan. Di depan wartawan dari seluruh dunia, pimpinan NASA saat itu menyampaikan bahwa misi Ares 3 terpaksa dihentikan. Tim sudah meninggalkan Mars dan sudah dalam lintasan menuju ke Bumi.

Satu orang awak tewas saat berusaha menjangkau pesawat. Seketika kalimat tersebut membuat terkejut semua wartawan. Saat itu juga, dunia menganggap bahwa sang astronot sudah tiada, sesuai dengan informasi yang disampaikan awak Ares 3.

Mark Watney. Satu - satunya astronot yang tak selamat itu adalah seorang ahli pertanian. Naas, badai telah membuat tubuhnya tumbang saat satelit kecil di habitat Ares 3 menghantam tubuhnya.

Satu hari berlalu

Mars yang sangat gelap saat badai, mulai terang, mulai cerah. Hanya ada satu manusia di sana. Sebuah camp canggih milik Ares 3. Dan makanan yang cukup untuk beberapa bulan.

Mars digambarkan sebagai planet yang gaya gravitasinya menyerupai bumi. Seorang manusia dapat berjalan seperti biasa, seperti di Bumi, di Mars. Tak perlu menggunakan baju astronot dengan bagian sepatu yang berat.


Mark Watney, tubuhnya setengah terkubur pasir. Sebuah tiang antena (satelit kecil), dengan diameter kurang dari satu sentimeter, bagian ujungnya menancap di perut kiri Mark. Perut dan baju astronot tersebut tidak kuasa menahan tekanan dari tiang antena yang dihambur - hamburkan badai.

Mark ternyata masih hidup. Sekian jam ia tak sadarkan diri, sejak badai merobohkan tubuhnya. Beruntung ia sadar ketika udara di baju astronotnya masih cukup untuk membuatnya sampai ke habitat (camp).

Tertinggalnya Mark adalah permulaan dari keseluruhan cerita di film ini.
[Bersambung]


Artikel Terkait


EmoticonEmoticon