Friday, 22 January 2016

Memiliki Bisnis Tetapi Tidak Memiliki Jiwa Wirausaha


Memiliki bisnis adalah keinginan bagi setiap orang. Berbagai latar belakang untuk membuka sebuah bisnis tumbuh secara berbeda untuk masing - masing orang. Ada yang berbisnis karena kepepet, ada juga yang melakukannya karena melihat peluang dan ada pula yang melakukannya dengan tujuan untuk membantu orang lain. Pertanyaannya, termasuk yang manakah Anda?

Apapun jawaban Anda, yang lebih penting adalah Anda harus memiliki kesadaran yang tinggi untuk terlibat dalam usaha yang Anda dirikan. Dewasa ini saya perhatikan masih tetap ada  orang yang mendirikan sebuah bisnis tetapi tidak melibatkan dirinya di usaha yang baru dibuka tersebut. Empat tahun lalu, saya sempat mendengar cerita dari seorang kawan yang dititipi oleh kenalannya untuk menjalankan bisnis. 

Si kenalan mempunyai uang, tetapi mungkin ia tidak memiliki waktu. Sedangkan teman saya, ia memiliki waktu yang banyak tetapi tidak memiliki uang. Awalnya saya biasa saja mendengar kabar tersebut, bahkan cenderung bersyukur karena mendengar teman saya sendiri bisa mendapat kepercayaan seperti itu. Tentunya hal yang bagus, bukan? Namun, besar usaha baru yang didirikan tersebut membuat saya sedikit terkejut. Wow, ternyata mereka memulai sebuah usaha yang berukuran besar. Besar atau kecil sebenarnya relatif, tapi untuk usaha tersebut saya yakin Anda setuju bahwa mereka memulainya dalam ukuran yang besar. 

Mereka mendirikan sebuah usaha kafe yang mampu menampung tigapuluh orang. Kafe dengan daya tampung 30 pengunjung pastilah tidak mungkin hanya digerakkan oleh dua orang saja, pasti membutuhkan orang lain sebagai karyawan. Dengan demikian, besarkah usaha yang didirikan itu? Jawabannya tergantung, tergantung pada jumlah uang yang dimiliki oleh si kenalan. Jika uang si kenalan yang keluar untuk mendirikan usaha tersebut lebih dari 60% dari jumlah uang yang dimilikinya, maka jumlah tersebut termasuk besar.

Sebuah pertanyaan muncul di benak saya, si kenalan sudah berpikir matang - matang atau belum ya? Apakah ia sudah memilih orang yang tepat atau telah melakukan kesalahan. Pertanyaan tersebut muncul karena bagi saya si kenalan telah melakukan hal yang "out of the box" saat itu. Pasalnya, pada waktu itu keadaannya menunjukkan bahwa teman saya belum pernah mendirikan atau mengelola sebuah usaha yang sejenis dengan usaha yang mereka dirikan. Kalau sudah seperti ini, kata resiko bisa berubah menjadi beresiko dong.

Sayangnya pada waktu itu saya belum masuk ke dunia bisnis atau mempelajari seluk beluk bisnis sama sekali, sehingga saya tidak tahu harus menyampaikan apa lagi selain turut senang atas kabar tersebut. Satu - satunya hal yang terpikir saat itu adalah bagaimana pembagian hasilnya ya, sesuai aturan atau belum, minimal pada pembagian tersebut ada keadilan di dalamnya. Kasihan teman saya jika pembagiannya kurang tepat.

Nah, jika seperti ini, maka kesalahan ada pada si kenalan. Ia berniat menjalankan usaha, namun memilih partner yang belum berpengalaman dan memulai dengan bentuk yang besar. Karena bentuknya yang besar ini, apabila usaha tersebut gagal, maka akan berbahaya bagi keuangan si kenalan sebagai pemilik. Misalnya, bagaimana jika pada bulan pertama sampai bulan ke tiga usaha tersebut belum bisa menutup biaya operasional seperti menggaji karyawan dan sewa tempat. Jika seperti itu, tentu saja si kenalan harus keluar uang untuk menutup biaya operasional tersebut alias nombok. Jika gaji si kenalan ini besar, maka hal tersebut bukanlah sebuah masalah.

Lebih jauh lagi, sebuah pertanyaan yang pantas untuk dilontarkan adalah apakah ada jiwa kewirausahaan di dalam diri si kenalan? Sebelum menjawabnya, di bawah ini ada beberapa definisi tentang jiwa kewirausahaan.
  • Kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different). (Drucker, 1959).
  • Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan. (Zimmerer, 1996).
  • Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha (star-up phase) dan perkembangan usaha (venture growth). (Soeharto Prawiro, 1997).
  • Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan, serta menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar. (Keputusan Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil Nomor 961/KEP/M/XI/1995).
  • Kewirausahaan adalah suatu sifat keberanian, keutamaan dalam keteladanan dalam mengambil resiko yang bersumber pada kemampuan sendiri. (S. Wijandi, 1988).
  • Kewirausahaan didefinisikan sebagai bekerja sendiri (self-employment). (Richard Cantillon, 1973).
Selanjutnya pengertian kewirausahaan menurut Norman M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer (1993:5) adalah:
“An entrepreuneur is one who creates a new business in the face of risk and uncertainty for the perpose of achieving profit and growth by identifying opportunities and asembling the necessary resourses to capitalize on those opportunuties”.


Dari beragam pernyataan tersebut saya simpulkan bahwa kewirausahaan adalah semangat, sikap dan perilaku yang dimiliki oleh seseorang untuk berani mengambil resiko, serta memiliki kerelaan untuk bekerja keras dan bertumbuh bersama usaha yang didirikan.

Dalam kasus yang dibahas di awal, jelas bahwa si kenalan atau pemilik usaha tersebut tidak memiliki jiwa kewirausahaan, karena dia tidak terlibat banyak untuk usaha tersebut. Lebih tepat si kenalan ini disebut sebagai seorang penanam modal atau investor.


Daftar pustaka : 
 
ilmuakuntansi.web.id (2012, Mei)

Artikel Terkait

2 komentar


EmoticonEmoticon