Friday, 15 January 2016

Perompak Somalia di Kapal Ferry Merak – Bakauheni

Dari Jogja, aku berangkat sendiri, tak ada teman ataupun kawan yang berangkat bersamaku di bus itu. Hanya ada 30an calon teman baru yang akan aku kenal jika aku berniat berkenalan satupersatu. Saat ini bus yang kami naiki, Rosalia Indah asal Solo, sudah masuk ke dock kendaraan di KMP Nusa Mulia di dermaga 1 Merak Port, Banten.

Awak bus berteriak, “ayo! Siapkan diri, pada turun, bus sebentar lagi dimatikan, segera naik ke kapal.” Semua penumpang mulai bergegas keluar dari bus seolah mengiyakan perintah sang awak. Aku mulai merapikan tas punggungku, mengecek semua resletingnya, memastikan bahwa semuanya terkunci. Semua beres! Aku segera turun dari bus dan naik ke kabin penumpang di kapal.

Sesak, dock kapal yang sudah dipenuhi oleh truk dan bus ini begitu sesak, semua kendaraan di dock bawah ini disesakkan ke depan oleh petugas. Padahal masih setengah bagian dock yang kosong. Aku heran, biasanya supaya seimbang, seharusnya kendaraan di dock bawah disusun merata, tetapi hal berbeda yang aku lihat hari ini, separuh bagian dock KMP Nusa Mulia ini kosong.

Seseorang mengajakku ke sebuah kafe yang ada di kapal, “bang ayo kita ngopi – ngopi dulu,” begitu katanya. “Oh, ayo, boleh,” sambil menjabat tangannya dan memperkenalkan nama, orang itupun mengikuti apa yang baru saja aku lakukan, memperkenalkan siapa dirinya.

Lokasi kafe cukup jauh, kami harus menaiki tangga sebanyak dua kali untuk mencapainya. Kafe tersebut terdapat di bagian belakang kabin penumpang, susunannya seperti sebuah burjo yang banyak aku temui di Yogyakarta, pantri dan meja pelanggan langsung berhadapan. Mejanya mengelilingi tiga sisi pantri, bagian depan dan sisi samping kanan-kiri. Hanya ada tiga sisi yang bisa digunakan untuk pengunjung, ini karena bagian belakangnya merupakan bagian dinding kabin kapal.

“Mas, kopi susunya satu!” “Kopi hitam satu ya!” seolah sudah terbiasa melayani orang – orang seperti kami, pelayan tersebut tersenyum dan langsung membuatkan pesanan. Tingginya sekitar 170an dengan postur badan kurus dan bicara dalam logat sunda.

Oh iya, teman yang baru aku kenal saat masih berada di dock tadi bernama Max Van Erijj, pria dengan tinggi 180cm berparas bule tapi lancer berbahasa Indonesia, sepertinya seorang keturunan indo-belanda yang menetap lebih lama di Indonesia. Dari kafe inilah kami akan menikmati perjalanan selama dua jam lebih di atas KMP Nusa Mulia ini.

Lima menit sebelum berangkat, ada seseorang dengan seragam biru, bertubuh gempal, parasnya bersih, memiliki aura yang menyenangkan untuk diajak kenalan oleh setiap orang yang baru pertama kali bertemu dengan dia. Sepertinya ia petugas resmi di kapal ini. Ia mulai mengambil perhatian semua orang yang ada di kabin.

Lafalnya sangat lancar seolah sudah melakukan hal yang baru saja akan dia lakukan ini sebanyak ribuan kali. Tanpa memperkenalkan diri ia mulai berbicara sambil memegang sebuah baju penyelamat berwarna oranye di tangan kanannya. Sebuah peragaan bagaimana menggunakan baju penyelamat, sepertinya begitu.


Setiap pasang mata, bisa dipastikan sedang menuju kearahnya saat ini. Topik keselamatan telah menjadi magnet bagi setiap orang yang ada di sini. Tidak ada yang tahu satu dua jam kedepan akan terjadi apa, setiap orang di sini memiliki kekhawatiran tentang keselamatannya masing – masing. 


Artikel Terkait

1 komentar so far


EmoticonEmoticon