Thursday, 7 January 2016

Pisang goreng, akhirnya ketemu!

Pisang gorengnya mantap. (foto : arfiardian 2016)

Pisang goreng adalah makanan yang disukai banyak orang. Saya yakin Anda juga termasuk penyuka pisang goreng. Rasa pisang yang pada dasarnya manis memang menjadi alasan kenapa makanan ini disukai hampir oleh semua kalangan mulai dari anak - anak, remaja, hingga orang dewasa. 

Saya merupakan salah satu pecinta pisang goreng kelas berat loh, hehehe. Saya menyukai pisang sejak jaman SMP, mungkin karena dulu ibu saya rutin membelikan buah untuk di rumah dan buahnya itu - itu saja yang dibeli, yap pisang. Saya ingat dulu saya sering minta dibuatkan pisang goreng waktu masih SMA. 

Apalagi dulu pas SMA itu ternyata ada guru biologi di sekolah yang ngasih tahu kalau makan pisang itu bikin sabar, wah sejak itu saya jadi makin suka makan pisang. Malahan, setiap kali makan pisang saya membayangkan bahwa saya menjadi semakin sabar, alhamdulillah, hahaha.

Tahun 2011 saya merantau ke Jogja untuk belajar. Nah, saya baru sadar kalau semenjak kuliah di Jogja ini, kalau ditelusur ke belakang, saya lebih jarang makan pisang goreng. Di Jogja cukup sulit menemukan penjual pisang goreng. Di penjual gorengan adanya pisang molen, di angkringan kadang ada kadang engga, dan tidak semua angkringan menjual pisang goreng, malah bisa dibilang jarang.

Hahaha, kemarin saya seneng nih gan, karena akhirnya makan pisang goreng lagi. Pisang goreng ini saya dapatin di sebuah angkringan yang ada di sekitar UGM. Tepatnya di jalan persatuan, persis di selatannya burger monalisa. Pisang gorengnya mantep bener, beuh, murah lagi, 2000 dapat tiga. Sebelum ke sini saya makan pisang goreng di jus pak lebah, di sana harganya satu biji seribu, di angkringan yang ini 2000 dapat tiga, lumayan lebih murah kan ya....hehehe.

Sebelum lebaran 2015 sebenernya masih enak, karena ada angkringan yang menjual pisang yang lokasinya dekat dengan kosan saya. Angkringan ini udah lama ada, namanya angkringan pak ponad, yang letaknya dekat dengan masjid pogung raya (MPR). Angkringan ini unik, gorengannya masih fresh, semua dibikin sendiri oleh pemilik angkringan. Berbeda dengan angkringan kebanyakan, mayoritas angkringan lainnya menjual gorengan yang distok dari tempat lain, bisa dibilang pihak ketiga. Pemilik angkringan hanya mengambil barang yang dijual dan menjualnya, tidak perlu produksi. Ciri angkringan yang seperti ini adalah gorengannya yang kalau sudah di atas jam tujuh malam rasanya kurang enak, karena teksturnya mengeras.

Angkringan yang di selatan burger monalisa ini hampir sama dengan angkringan pak ponad,  yaitu gorengannya sama - sama baru digoreng di lokasi angkringan. Oh iya, soal pisangnya, ibunya kemarin tak tanyain, "bu, tumben ada pisang, biasanya ga ada?", kata ibunya kalau pisangnya ada pasti dia bikin, kalau pisangnya ga ada ga bikin. Langsung spontan saya bilang ke ibunya, "bu, bikin tiap hari aja, pasti banyak yang mau", mbok dikiro nek dibikin tiap hari koe gelem tuku, lee lee, hahaha.

Oh iya, saya mampir ke sini di sela - sela waktu kerja di warung. Biasanya saya beli gorengan untuk lauk temen - temen kru warung makan malam. By the way, gorengannya enak - enak loh.

gorengan - gorengan di angkringan selatan burger monalisa ugm. (foto : arfiardian 2016)





Artikel Terkait


EmoticonEmoticon