Thursday, 31 March 2016

Pengalaman Saya Memulai Bisnis Kuliner #2

Pengalaman Saya Memulai Bisnis Kuliner #2



Setelah menentukan posisi dari bisnis yang Anda buat, maka kita baru bisa menentukan "nanti tempatnya seperti apa", "mau gerobakan atau di ruko atau warung tendahan" dan "cara marketing atau promosinya bagaimana."

Inilah kenapa menentukan siapa target pasar atau customer segmen dari bisnis yang Anda buat adalah hal yang harus dilakukan pertama kali. Beberapa tahap yang harus dilalui pada proses perencanaan mengacu pada seperti apa target pasar yang Anda bidik.

Di akhir artikel berjudul "Pengalaman Saya Memulai Bisnis Kuliner #1" saya menuliskan sebuah pertanyaan kepada pembaca, "Bisakah Anda membayangkan letak kesalahan yang kami lakukan?"

Di artikel lanjutan ini saya akan membahas mengenai kesalahan tersebut.

Jujur, saya baru tahu bahwa kami melakukan kesalahan ketika bisnis tersebut mau ditutup. Saya lupa apakah kesalahan ini juga merupakan pertimbangan untuk berhenti saat itu.
Menarget kalangan menengah atas, tapi penyajiannya (dari tempatnya, suasananya) malah lebih cocok untuk kalangan menengah ke bawah.
Di tengah perjalanan saat bubur ayam yang kami buat tersebut running untuk beberapa bulan, saya akhirnya sadar kenapa bubur ayam pesaing kami lebih laris. Bagi sahabat yang tinggal di Yogyakarta, mungkin sahabat pernah makan di bubur ayam Yoy*ng yang berada di jalan magelang dekat Pasar Kranggan.

Di masa - masa awal, kami bersikeras bahwa harga 13 ribu adalah harga yang bisa diterima untuk satu porsi bubur ayam enak di Jogja.

Kami berpikir demikian karena ada sebuah kedai bubur ayam yang sudah lebih dulu menggunakan harga segitu untuk satu porsi bubur ayam di Jogja, bahkan kedai tersebut sanggup eksis sampai sekarang. Ya, kedai bubur ayam Yoy*ng ini yang saya maksud.

Tingkat percaya diri kami cukup baik sebelum dan setelah running karena kami sudah menyempatkan diri untuk mencicipi rasa bubur ayam dari pesaing kami ini. Untuk urusan rasa, kami pede setinggi langit, kami yakin bahwa kami yang paling enak di Jogja di harga 13 ribu rupiah.

But, we've forgot something. Kami belum mahir membaca kenapa - kenapa - bagaimana secara keseluruhan. Saat itu, saya sendiri juga tidak memperhatikan kalau perbedaan harga dan tempat antara kami dan pesaing cukup jauh.

Mereka memiliki tempat yang menarik, enak dilihat dan nyaman untuk disinggahi berlama - lama, sedangkan kami hanya di pinggir jalan dan lesehan seadanya.

Perbedaan packaging (tempat dan suasana penyajian) menjadi pembeda yang cukup besar dengan harga yang per porsi yang hampir sama untuk target pasar yang sama.

Tapi satu hal yang masih saya dan salah satu rekan saya yakini sampai hari ini, kami yakin bahwa bubur ayam tersebut jika bertahan untuk satu - dua tahun pasti bisa mencuri perhatian masyarakat Jogja. Rasa yang enak, serta tekstur buburnya yang kental (salah satu keunikan kami) adalah alasan mengapa kami memiliki keyakinan tersebut.

Kalau yakin, kok berhenti?

Kalau yakin, kok berhenti sih? Nah, di usaha kuliner ini juga merupakan saat - saat pertama saya memulai bisnis dengan kolaborasi. Sebelumnya, saya menjalankan usaha sendiri, dan saya pikir bahwa tahun 2015 saya harus ada kemajuan, masa' tahun kemarin sendiri sekarang juga sendiri.

Dari usaha ini saya belajar juga bahwa mencari partner bisnis harus "teliti", minimal calon partner tersebut harus se-visi dan sama - sama memiliki kerelaan berkorban untuk bisnis yang akan dibuat.

Jadi, pesan saya berikutnya adalah : Pilih partner bisnis dengan teliti. Usahakan bahwa orang yang Anda pilih sebagai partner adalah seseorang yang sama - sama pekerja keras-nya seperti Anda.

"Selidikilah" teman Anda yang mengajak Anda untuk membuat bisnis bersama - sama. Jangan sampai hanya Anda yang berkorban (waktu, tenaga dan mungkin uang) paling banyak dibanding yang lainnya tetapi pembagian hasilnya sama.

Jika Anda hanya mampu berkorban uang, maka pastikanlah bahwa kalian memiliki perjanjian pembagian hasil yang jelas dan usahakan pembagian hasil tersebut adil. Jangan menentukan pembagian hasil ketika bisnis tersebut sudah berjalan dan menemui keberhasilan. Tentukanlah di depan.

Dalam usaha yang saya jalankan dengan tiga orang teman saya ini, pembagian hasil kami bagi berdasarkan jumlah modal yang kami keluarkan untuk membiayai bisnis bubur ayam ini. Awalnya, saya berpikir kalau jenis pembagian tersebut sudah beres, namun semakin ke belakang saya menyadari bahwa ada hal yang kurang dari perjanjian tersebut.

Membagi keuntungan berdasarkan jumalah modal yang dikeluarkan oleh masing - masing rekan akan adil jika semua partner atau rekan bisnis Anda meluangkan waktu dan tenaga yang sama banyaknya dengan Anda.

Kejelasan pembagian ini sangat berpengaruh ke performa Anda dan partner Anda ketika bisnis ini sudah running cukup lama dan mulai dikenal orang.

Anda atau mungkin rekan Anda yang mengorbankan waktu dan tenaga yang lebih banyak daripada yang lain akan merasa bahwa ada sesuatu yang salah dari sistem pembagiannya, atau cara pembagiannya harus diperbarui.

Saran saya, daripada Anda memperbarui sistem pembagian tersebut di tengah jalan, lebih baik sebelum mulai dipikirkan betul - betul bagaimana pembagian yang paling adil untuk semua orang yang ada di usaha itu.

Dalam kasus kami, bagian ini sebenarnya memiliki pengaruh (entah seberapa besar persentasenya) terhadap keputusan lanjut atau tidaknya usaha yang baru beberapa bulan kami jalankan ini.

Ada satu aturan yang harus dipegang oleh seorang pebisnis di dalam kehidupan pribadi maupun bisnis, aturan tersebut adalah "tidak menyalahkan orang lain" dan sadar bahwa semua hal bersumber pada diri kita sendiri. Jadi, just make your own exit strategy or re-negotiate (with your partner(s)).

Tapi, sebetulnya point terbesar yang menjadi pertimbangan paling dominan kenapa bubur ayam paling enak se-Jogja ini berhenti adalah :


  1. Arus kas minus dan modal dari para founder terus menipis dari waktu ke waktu
  2. Butuh waktu 1 - 2 tahun atau mungkin 5 tahun untuk menemui titik terang. Atau dengan kata lain "kami harus jadi legend dulu baru bisa ramai"
  3. Di tengah jalan kami baru merasa bahwa kami menjalankan bisnis bubur ayam dengan model yang kurang tepat


Pesan dari bagian #2 ini

1. Sesuaikan bagaimana penyajian (bisa packaging, suasana ruko, tempat duduk) dengan target pasar yang Anda bidik. Jangan mengharapkan orang kaya atau kalangan menengah atas mau (berkali - kali) makan di warung lesehan pinggir jalan yang beralaskan tikar seadanya. Kalau sudah jadi legend mungkin kalangan menengah atas ga akan pake mikir untuk menyantap produk Anda di atas tikar pinggir jalan. Pas-kan packagingnya.

2. Pilih partner dengan teliti. Lakukan Check & re-check terlebih dahulu sebelum memilih partner Anda. Sekalipun Anda adalah orang yang cuek.


Pengalaman Saya Memulai Bisnis Kuliner #2

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon